best

https://draft.blogger.com/rearrange?blogID=7230975934311325906§ionId=crosscol&action=editWidget&widgetType=HTML&referrer=directory

Sabtu, 03 Desember 2016

MAKALAH SEDIAN LIKUID

SEDIAAN LIKUID
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Formulasi Sedian Likuid dan Semisolid

Dosen Pembina
Sohadi Warya, M.Si., Apt

Oleh
Fifi Nurafiah Somantri                      Yulia Anggraini
Diman Agustian                                Retno Roma Uli
Adrianus Heven                                Wiwin Sundari

PROGRAM STUDI FARMASI
SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA
YAYASAN HAZANAH
BANDUNG
2016
1.             Metode Pembuatan Sirup
Berdasarkan sifat fisika dan kimia bahan-bahannya pembuatan sirup dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
a.         Larutan yang dibuat dengan bantuan panas
Sirup dibuat dengan bantuan panas bila dibutuhkan untuk membuat sirup secepat mungkin dan bila komponen sirup tidak rusak atau menguap oleh panas. Pada cara ini gula umumnya ditambahkan ke air yang dimurnikan, dan panas digunakan sampai larutan terbentuk. Kemudian, komponen-komponen lain yang tidak tahan panas ditambahkan ke sirup panas, campuran dibiarkan dingin, dan volumenya disesuaikan sampai jumlah yang tepat dan ditambahkan air murni. Dalam keadaan dimana zat-zat tidak tahan panas atau menguap, seperti misalnya minyak mudah menguap penambah rasa dan alkohol, maka biasanya ditambahkan ke sirup sesudah larutan gula terbentuk oleh pemanasan, dan larutan cepat-cepat didinginkan sampai temperatur ruang (Voigt, 1984).

b.        Larutan yang diaduk tanpa bantuan panas
Untuk menghindari panas yang merangsang inversi sukrosa, sirup dapat dibuat tanpa pemanasan dengan pengadukan. Pada skala kecil, sukrosa dari zat formula lain dapat dilarutkan dalam air murni dengan menempatkan bahan-bahan dalam botol yang kapasitasnya lebih besar dari pada volume sirup yang akan dibuat, dengan demikian pengadukan campuran dengan seksama. Proses ini memakan waktu lebih lama dari pada waktu yang dibutuhkan panas untuk memudahkan melarutnya sukrosa, tetapi produk tersebut mempunyai kestabilan yang maksimal. Tangki besar dari stainless ttel atau tangki yang dilapisi gelas dilengkapi dengan pengaduk mekanik atau pemutar digunakan dalam pembuatan sediaan sirup skala besar (Voigt, 1984).
c.         Penambahan cairan obat yang dibuat atau cairan yang diberi rasa
Ada kalanya cairan obat, seperti tinktur atau ekstrak cair, digunakan sebagai sumber obat dalam pembuatan sirup. Banyak tinktur-tinktur dan ekstrak seperti itu mengandung bahan-bahan yang larut dalam alkohol dan dapat dibuat dengan pembawa ber-alkohol atau hidro alkohol. Akan tetapi bila komponen yang larut dalam alkohol tidak dibutuhkan atau komponen-komponen yang tidak penting dari sirup yang sesuai, komponen-komponen tersebut umumnya dihilangkan dengan mencampur tinktur atau ekstrak kental dalam air, campuran dibiarkan sampai zat-zat yang tidak larut dalam air terpisah sempurna, dengan menyaringnya dari campuran. Pada keadaan lain, bila tinktur atau ekstrak kental bercampur dengan sediaan cair, ini dapat ditambahkan langsung ke sirup biasa atau sirup pemberi rasa obat (Voigt, 1984).

d.        Dengan perkolasi
Pada metode ini terdiri dari dua langkah utama, yaitu pembuatan ekstrak obat dan kemudian pembuatan sirup.
Untuk perkolasi dapat digunakan perkolator bentuk silinder atau kerucut. Umumnya sukrosa yang digranul kasar lebih disukai atau dalam Dalam cara perkolasi, sukrosa dapat diperkolasi untuk membuat sirup, atau sumber komponen obat dapat diperkolasi untuk menjadi ekstrak yang dapat ditambahkan sirup atau sukrosa.penggunaanya untuk mencegah gula memadat dengan sangat kuat, dalam keadaan tersebut pelarut tidak akan menembus kolom dan melarutkan gula. Gumpalan kapas yang diletakkan pada dasar kolom cukup rapat untuk mencegah gula tidak larut masuk ke dalam lubang bawah yang cukup longgar untuk memungkinkan sukrosa yang tidak larut lewat bebas, aliran perkolat bisa diatur dengan mengatur kran pada lubang. Bila semua sukrosa telah dilarutkan, air murni tambahan atau cairan air yang dibutuhkan dilewatkan melalui kapas pada perkolator untuk mencuci kapas-kapas yang di serapi sisa sirup-sirup ke dalam perkolat dan untuk memperoleh produk akhir dengan volume yang diinginkan (Voigt, 1984).
Gambar 1 : Alur Proses Pembuatan Sediaan Sirup

2.             Keuntungan dan Kerugian Sediaan Likuid
2.1  Keuntungan sedian cair (liquid)
a.       Absobsi obat lebih cepat di bandingkan dengan sedian oral lainnya. Urutan kecepatan absobsinya larutan>emulsi>suspense
b.      Cocok untuk penderita yang sukar menelan.
c.       Homogenitas lebih terjamin.
d.      Dosis dapat disesuaikan.
e.       Dosis obat lebih seragam di bandingkan sediaan paday, terutama bentuk larutan. Untuk suspense dan emulsi keseragaman dosis tergantung paa pengocokan.
2.2  Kerugian sedian cair (liquid)
a.    Tidak dapat dibuat untuk senyawa obat yang tidak stabil dalam air.
b.    Bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar di tutupi.
c.    Tidak praktis.
d.   Takaran penggunaan obat tidak dalam dosis terbagi, kecuali sediaan dosis tunggal, dan harus menggunakan alat khusus.
e.    Air merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri dan merupakan katalis reaksi.
f.     Pemberian obat harus menggunakan alat khusus atau oleh orang khusus (sedian parenteral).

3.             Uji Sifat Fisik dan Kimia Sediaan Sirup dan Eliksir
3.1    Pemeriksaan Organoleptis
Pemeriksaan ini meliputi warna, bau, rasa. Pada eliksir perlu diperhatikan tidak ada partikel yang tidak larut.

3.2    Kekentalan atau viskositas
Uji sifat alir perlu dilakukan untuk mengetahui viskositas dari sirup. Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, semakin tinggi viskositas akan semakin besar tahanannya (Martin et al., 1993). Suatu produk yang mempunyai viskositas yang terlalu tinggi umumnya tidak diinginkan karena sukar dituang dan sukar diratakan kembali (Nash,1996).
a.         Viskometer kapiler / ostwold
Dengan cara waktu air dari cairan yang diuji dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu zat yang viskositasnya sudah diketahui (biasanya air) untuk lewat dua tanda tersebut (moectar 1990).
b.        Viskometer hoppler
Berdasarkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi keseimbangan sehingga gaya gesek = gaya berat – gaya archimides. Prinsip kerjanya adalah menggelindingkan bola ( yang terbuat dari kaca ) melalui tabung gelas yang hampir tikal berisi zat cair yang diselidiki. Kecepatan jatuhnya bola merupakan fungsi dari harga resiprok sampel. (Moechtar,1990)
c.         Viskometer cup dan pob
Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan antara dinding luar dari bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi disepanjang keliling bagian tube sehingga menyebabkan penueunan konsentrasi. Penurunan konsentrasi ini menyebabkan bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebut aliran sumbat. (Moechtar,1990)
d.        Viskometer cone dan plate
Dengan cara sampel ditempatkan ditengah-tengah, kemudian dinaikan hingga posisi dibawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh motor dengan bermacam kecepatan dan sampelnya digeser pada ruangan yang sangat sempit antara papan yang didalam kemudian kerucut yang berputar (Moechtar 1990).

3.3    Bobot jenis
Bobot jenis dilakkukan untuk mengetahui perbandingan bobot zat terhadap volume air adalah sama saat ditimbang. Bobot jenis suatu zat dilakukan dengan cara membagi bobot zat dengan bobot air dalam piknometer. Dimana air digunakan sebagai standar untuk zat cair dan zat padat (Ansel et al., 2005).

3.4    pH
Sediaan diukur pH nya dengan menggunakan pH meter, yaitu disesuaikan dengan pH usus karena sediaan diabsorbsi di usus jadi pH sediaan harus sama dengan pH usus.

3.5    Efektivitas pengawet
Uji efektivitas pengawet dilakukan untuk mengetahui mutu pengawet yang digunakan. Pengawet memiliki mutu yang baik apabila mampu mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Cara uji efektivitas pengawetadalah dalam ruangan steril dibawah laminar air flow. Satu ml larutan diambil menggunakan pipet volume steril. Larutan yang diambil dimasukkan ke dalam tabung yang berisi media. Kemudian media yang berisi larutan diinkubasi. Setelah media diinkubasi, kemudian diamati ada atau tidak kontaminasi pada permukaan media (Jawetz et al., 1996).

3.6    Stabilitas Kimia
Stabilitas kimia adalah kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan, sifat kimia dan karakteristiknya sarna dengan yang dimilikinya pada saat dibuat. Stabilitas kimia pada sediaan sirup dilakukan untuk mempertahankan keutuhan kimiawi dan potensiasi yang tertera pada etiket dalam batas yang dinyatakan dalam spesifikasi.
Uji stabilitas kimia sediaan sirup :
1.        Identifikasi
2.        Penetapan Kadar

3.7    Uji Stabilitas Secara Mikrobiologi
Stabilitas mikrobiologi suatu sediaan adalah keadaan di mana sediaan bebas dari mikroorganisme atau tetap memenuhi syarat batas mikroorganisme hingga batas waktu tertentu. Stabilitas mikrobiologi pada sediaan sirup untuk menjaga atau mempertahankan jumlah dan menekan pertumbuhan mikroorganisme yang terdapat dalam sediaan sirup hingga jangka waktu tertentu yang diinginkan.
Jumlah cemaran mikroba (uji batas mikroba)
a.         Total bakteri aerob : Tidak lebih dari 10.000 CFU/gram atau ml.
b.        Total Jamur/fungi : Tidak lebih dari 100 CFU/gram atau ml.



DAFTAR PUSTAKA
Moechtar. 1990. Farmasi Fisik. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Moh. Anief. 1997. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Syamsuni, A. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG

Voigt, R. 1984. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

2 komentar: