EMULSI OLEUM RICINI
1.
TUJUAN
A.
Mahasiswa dapat
memahami proses pembuatan sediaan emulsi.
B.
Mahasiswa dapat
menentukan nilai HLB butuh yang digunakan dalam pembuatan sediaan emulsi.
C.
Mahasiswa dapat
mengetahui pengaruh nilai HLB terhadap stabilitas emulsi.
D.
Mahasiswa mampu
memahami evaluasi sediaan emulsi.
2.
PRINSIP
A.
Penentuan nilai
HLB butuh minyak yang digunakan dalam pembuatan emulsi sesuai dengan
konsentrasi surfaktan sesuai formulasi.
B.
Pembuatan
sediaan emulsi dengan terlebih dahulu mencampurkan fase air dengan tween 80 dan
fase minyak dengan span 80, kemudian kedua fase tersebut dicampurkan pada suhu
70oC hingga terbentuk suatu emulsi.
C.
Evaluasi
stabilitas sediaan emulsi dengan
mengamati apakah terjadinya pemisahan antara fase minyak dan fase air
dalam suatu system emulsi.
3.
TEORI
3.1 Definisi Emulsi
Emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu
cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Jika
minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan air merupakan fase pembawa,
sistem ini disebut emulsi air dalam minyak. Sebaliknya, jika air atau larutan
air yang merupakan fase terdispersi dan minyak atau bahan seperti minyak
merupakan fase pembawa, sistem ini disebut sistem emulsi air dalam minyak.
Emulsi dapat distabilkan dengan penambahan
bahan pengemulsi yang mencegah koalesensi, yaitu penyatuan tetesan kecil
menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi satu fase tunggal yang memisah.
Bahan pengemulsi (Surfaktan) menstabilkan dengan cara menempati antar permukaan
antara tetesan dan fase eksternal, dan dengan membuat batas fisik disekeliling
partikel yang akan berkoalesensi. Surfaktan juga mengurangi tegangan antar
permukaan antar fase, sehingga meningkatkan proses emulsifikasi selama
pencampuran.
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan
obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan
dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Emulsi merupakan sediaan yang
mengandung dua zat yang tidak tercampur, biasanya air dan minyak, di mana
cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain. (Depkes,
1979 : 56)
Dispersi ini tidak stabil, butir-butir ini
bergabung (koalesen) dan membentuk dua lapisan air dan minyak yang terpisah.
Zat pengemulsi (emulgator) merupakan komponen yang paling agar memperoleh
emulsa yang stabil. Sebagai emulgator agar-agar dilarutkan dulu dalam air panas
dan dibiarkan sehari semalam lalu didihkan lagi. Dalam air dingin agar-agar
tidak larut tetapi mengembang dan larutannya 0,5% agar-agar masih berupa selai.
Digunakan larutan agar-agar sebagai emulgator,
adalah karena viskositas larutannya yang tinggi, maka itu penggunaannya sebagai
emulgator adalah merupakan campuran dengan emulgator lain seperti, PGA, Span
dan Tween, Tragacantha. Setelah dibuat larutan lalu dibuat emulsi dengan
minyaknya dengan diaduk kuat-kuat dengan mixer (alat pencampur). Semua
emulgator bekerja dengan membentuk film (lapisan) di sekeliling butir-butir
tetesan yang terdispersi dan film ini berfungsi agar mencegah terjadinya
koalesen dan terpisahnya cairan dispers sebagai fase terpisah. Terbentuk dua
macam tipe emulsi yaitu wemulsi tipe M/A di mana tetes minyak terdispersi dalam
fase air dan tipe A/M di mana fase intern adalah air dan fase extern adalah
minyak. Zat pengemulsi adalah P.G.A., Tragacantha, Gelatin, Sapo, Senyawa
Ammonium kwartener, Cholesterol, Surfactan seperti Tween, Spaan dan
lain-lainnya. Untuk menjaga stabilnya emulsi perlu diberi pengawet yang cocok.
Emulsa dapat dibedakan dalam:
- Emulsa Vera (Emulsi alam)
a. Kuning telur : Cara Pembuatan emulsi
dengan kuning telur dalam mortir luas dan digerus dnegan stemper kuat-kuat,
setelah itu dimasukkan minyaknya sedikit demi sedikit, lalu diencerkan dengan
air dan disaring dengan kasa.
b. Adeps lanae.
c. Emulgator mineral
d. Magnesium Aluminuin Silikat ( Veegum
) : Cara Pembuatan diapaki 1%
e. Bentonit : Cara Pembuatan 5%
bentonit yang digunakan.
- Emulsa Spuria (Emulsi buatan)
Tween : Ester dari sorbitan dengan
asam lemak disamping mengandung ikatan eter dengan oksi etilen, berikut
macam-macam jenis tween .
a. Tween 20 : Polioksi etilen sorbitan monolaurat,
cairan seperti minyak.
b. Tween 40 : Polioksi etilen sorbitan monopalmitat,
cairan seperti minyak.
c. Tween 60: Polioksi etilen sorbitan
monostearat,semi padat seperti minyak.
d. Tween 80 : Polioksi etilen sorbitan
monooleat, cairan seperti minyak.
Span : Ester dari sorbitan dengan
asam lemak. Berikut jenis span:
a. Span 20 : Sorbitan monobiurat,
cairan.
b. Span 40 : Sorbitan monopulmitat,
padat seperti malam.
c. Span 60 : Sorbitan monooleat, cair
seperti minyak.
d. Komponen Tambahan yaitu bahan
tambahan yang sering ditambahkan ke dalam emulsi untuk memperoleh hasil yang
lebih baik. Misalnya : pewarna, pengaroma, perasa, dan pengawet.
Pembuatan emulsi minyak lemak
biasanya dibuat dengan emulgator gom arab, dengan perbandingan untuk 10 bagian
minyak lemak dibuat 100 bagian emulsi. Gom arab yang digunakan adalah separo
jumlah minyak lemak. Sedangkan air yang digunakan adalah 1,5 x berat PGA.
3.2
Definisi Sulfaktan
Surfaktan
merupakan molekul yang memiliki gugus polar yang suka air (hidrofilik) dan
gugus non polar yang suka minyak (lipofilik) sekaligus, sehingga dapat
mempersatukan campuran yang terdiri dari minyak dan air. Surfaktan adalah bahan
aktif permukaan, yang bekerja menurunkan tegangan permukaan cairan, sifat aktif
ini diperoleh dari sifat ganda molekulnya. Bagian polar molekulnya dapat
bermuatan positif, negatif ataupun netral, bagian polar mempunyai gugus
hidroksil semetara bagian non polar biasanya merupakan rantai alkil yang
panjang. Surfaktan pada umumnya disintesis dari turunan minyak bumi dan
limbahnya dapat mencemarkan lingkungan, karena sifatnya yang sukar
terdegradasi, selain itu minyak bumi merupakan sumber bahan baku yang tidak
dapat diperbarui.
3.3
Tipe Emulsi
Salah
satu fase cair dalam suatu emulsi terutama bersifat polar (sebagai contoh air),
sedangkan lainnya relatif non polar (sebagai contoh minyak).
1.
Bila
fase minyak didispersikan sebagai bola-bola ke seluruh fase kontinu air, sistem
tersebut dikenal sebagai suatu emulsi minyak dalam air (o/w).
2.
Bila
fase minyak bertindak sebagai fase kontinu, emulsi tersebut dikenal sebagai
produk air dalam minyak (w/o).
Emulsi
yang dipakai untuk obat luar bertipe o/w atau w/o, untuk tipe o/w menggunakan
zat penegemulsi disamping beberapa yang dikemukakan tadi yakni natrium lauril
sulfat, trietanolamin stearat.
Untuk
memperoleh emulsi yang stabil perlu diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut
:
1.
Penggunaan
zat-zat yang mempertinggi viskositas.
2.
Perbandingan
opimum dari minyak dan air. Emulsi dengan minyak 2/3-3/4 bagian meskipun
disimpan lama tidak akan terpisah dalam lapisan-lapisan.
3.
Penggunaan
alat khusus untuk membuat emulsa homogen.
3.4 Adapun keuntungan Sediaan Emulsi :
1.
Banyak
bahan obat yang mempunyai rasa dan susunan yang tidak menyenangkan dan dapat dibuat
lebih enak pada pemberian oral bila diformulasikan menjadi emulsi.
2.
Beberapa
obat menjadi lebih mudah diabsorpsi bila obat-obat tersebut diberikan secara oral dalam bentuk emulsi.
3.
Emulsi
memiliki derajat elegansi tertentu dan mudah discuci bila diinginkan.
4.
Formulator
dapat mengontrol penampilan, viskositas, dan kekasaran (greasiness) dari emulsi kosmetik maupun emulsi dermal.
5.
Emulsi telah digunakan untuk pemberian makanan
berlemak secara intravena akan lebih
mudah jika dibuat dalam bentuk emulsi.
6.
Aksi
emulsi dapat diperpanjang dan efek emollient yang lebih besar daripada
jika dibandingkan dengan sediaan lain.
7.
Emulsi
juga memiliki keuntungan biaya yang penting daripada preparat fase tunggal,
sebagian besarlemak dan pelarut-pelarut untuk lemak yang dimaksudkan untuk
pemakaian ke dalam tubuh manusia relatif memakan biaya, akibatnya pengenceran
dengan suatu pengencer yang aman dan tidak mahal seperti air sangat diinginkan
dari segi ekonomis selama kemanjuran dan
penampilan tidak dirusak. (Lachman, dkk., (2008) : 1029)
3.5
Adapun kerugian emulsi :
Emulsi
kadang-kadang sulit dibuat dan membutuhkan tehnik pemprosesan khusus. Untuk
menjamin karya tipe ini dan untuk membuatnya sebagai sediaan yang berguna,
emulsi harus memiliki sifat yang diinginkan dan menimbulkan sedikit mungkin
masalah-masalah yang berhubungan. (Lachman,
dkk., (2008) : 1031).
Dikenal beberapa fenomena ketidak stabilan emulsi
yaitu :
1.
Flokulasi dan Creaming
Ini terjadi karena penggabungan partikel yang disebabkan
oleh adanya energi bebas permukaan saja. Flokulasi adalah terjadinya
kelomok-kelompok globul yang letaknya tidak beraturan di dalam suatu emulsi.
Creaming adalah terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi yang berbeda-beda
di dalam suatu emulsi. Lapisan dengan konsentrasi yang paling pekat akan berada
di sebelah atas atau disebelah bawah tergantung dari bobot jenis fasa yang
terdispersi.
2. Koalesen dan
Demulsifikasi
Fenomena ini
terjadi bukan karena semata-mata karena energi bebas permukaan saja, tetapi
juga karena tidak semua globul terlapis oleh film antar permukaan. Koalesen
adalah terjadinya penggabungan globul-globul menjadi lebih besar, sedangkan
demulsifikasi adalah merupakan proses lebih lanjut dari koalesen dimana kedua
fasa terpisah menjadi dua cairan yang tidak bercampur. Kedua fenomena ini tidak
dapat diperbaiki dengan pengocokan.
Dalam pembuatan suatu emulsi, pemilihan
emulgator merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan karena mutu dan
kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Salah
satu emulgator yang aktif permukaan adalah surfaktan. Mekanisme kerja emulgator
ini adalah menurunkan tegangan antar permukaan air dan minyak serta membentuk
lapisan film pada permukaan globul-globul fasa terdispersinya.
Secara kimia molekul surfaktan terdiri
atas gugus polar dan nonpolar. Apabila surfaktan dimasukkan ke dalam suatu
sistem yang terdiri dari air dan minyak, maka gugus polar akan terarah ke fasa
air sedangkan gugus non polar terarah ke gugus ke fasa minyak. Surfaktan yang
memiliki gugus polar lebih kuat akan cenderung membentuk emulsi minyak dalam
air, sedangkan bila gugus nonpolar yang lebih kuat maka akan membentuk emulsi
air dalam minyak. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan tentang kekuatan gugus
polar-nonpolar dari surfaktan. Metode yang dapat digunakan untuk menilai
efisiensi emulgator yang ditambahkan adalah metode HLB
(Hydrophilic-Lipophilic Balance).
3.6
Nilai
HLB
HLB adalah angka yang
menunjukkan perbandingan antara senyawa hidrofilik (suka air) dengan senyawa
oleofilik (suka minyak). Semakin besar harga HLB berarti semakin banyak
kelompok senyawa yang suka air. artinya, emulgator tersebut lebih mudah larut
dalam air dan demikian sebaliknya. kegunaan suatu emulgator ditinjau dari harga
HLB-nya. Berikut adalah harga dan kegunaan HLB:
1
– 3 Anti foaming agent
4
– 6 Emulgator tipe w/o
7
– 9 Bahan pembasah ( wetting agent)
8
– 18 Emulgator tipe o/w
13
– 15 Detergent
10
– 18 Kelarutan (solubilizing agent)
4.
ALAT DAN BAHAN
4.1
Alat
Alat-alat yang digunakan pada proses pembuatan emulsi oleum ricini
adalah kertas perkamen, spatel, beaker
glass, gelas ukur, penjepit tabung, batang pengaduk, pipet tetes, mixer jadul, hot plate.
Alat-alat yang digunakan pada evaluasi emulsi oleum ricini (minyak jarak) adalah pikonometer, Viskometer Brookfield, pH meter, pH universal.
4.2
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada proses pembuatan emulsi Oleum ricini (minyak jarak) adalah Oleum ricini (minyak jarak), Span 80,
Tween 80, NaCMC, Natrium Benzoat, BHT, Sorbitol dan Aquadest.
5.
PROSEDUR
5.1
Prosedur Kerja
Mula-mula dikalibrasi botol. Lalu ditimbang dan diukur bahan-bahan
yang akan digunakan. Kemudian dikembangkan Na CMC dengan air panas sebanyak 80
ml. Setelah mengembang, ditambahkan teween 80 kedalam Na CMC. Setelah itu
dilarutkan tween 80 dengan aquadest sampai larut, kemudian dipanaskan. Lalu
mucilago dimasukkan kedalam campuran diaduk hingga homogen. Kemudian
ditambahkan campuran span 80 dan oleum ricini sedikit demi sedikit, diaduk
hingga homogen sambil dipanaskan. Setelah itu ditambahkan BHT yang telah
dilarutkan dengan sorbitol. Lalu campuran diaduk dengan menggunakan mixer.
Ditambahkan Na benzoat yang sebelumnya sudah dilarutkan dalam aquadest, diaduk
hingga homogen. Setelah itu ditambahkan aquadest sampai 400 ml, lalu campuran
tersebut dimasukkan kedalam botol.
5.2
Prosedur Evaluasi
5.2.1
Organoleptis
Pada evaluasi organoleptis dilakukan pengamatan warna, bentuk, bau
dan kekeruhan pada jangka waktu 1 jam, 24 jam, 48 jam, dan 96 jam.
5.2.2
pH
Pada evaluasi pH dilakukan dengan pH meter dan pH universal.
Pertama-tama dilakukan dengan pengujian dengan pH meter dimana dilakukan
dikalibrasi terlebih dahulu dengan buffer pH 4, 7, dan 9. Setelah dikalibrasi
batang pH meter dimasukan kedalam sampel dan mendapatkan hasil. Pengujian
dilakukan pada waktu 1 jam, 24 jam, 48 jam, dan 96 jam.
Pada uji pH universal, kertas indikator dimasukan kedalam sampel.
Warna pada kertas dibandingkan dengan ketentuan pH yang tertera pada kotak. pH
pada sampel diukur pada jangka waktu 1 jam, 24 jam, 48 jam, dan 96 jam.
5.2.3
Bobot Jenis
Pada evaluasi bobot jenis dilakukan dengan menggunakan piknometer. Piknometer
dibasuhi dengan etanol dan masukan ke dalam oven setelah itu ditimbang
piknometer kosong dengan tutup. Setelah itu diisi piknometer dengan sampel
perlahan-lahan sampai tidak ada gelembung udara didalamnya kemudian ditimbang
pikno tersebut setelah itu dihitung massa jenisnya.
5.2.4
Viskositas
Pada evaluasi viskositas dilakukan dengan menggunakan viscometer brookfield. Disiapkan alat viscometer brookfield diletakkan pada
posisi yang benar dengan mengatur letak gelembung udara tepat berada ditengah
lingkaran. Kemudian diatur kecepatan (rpm) yang sesuai, dan dipilih spindle
yang akan digunakan. Lalu turunkan spindle sampai terselup kedalam sampel.
Setelah itu dibaca skala pada piringan viscometer. Kemudian dihitung
viskositasnya.
5.2.5
Volume
Sedimentasi
Pada evaluasi volume sedimentasi dilakukan dengan
cara mengamati volume awal sediaan dengan pembacaan skala milimeter block. Setelah didiamkan beberapa hari diamati volume
akhir dengan terjadinya sedimentasi terhadap volume yang diukur.
6.
DATA PENGAMATAN
6.1
Tabel Preformulasi
|
No
|
Nama
|
Kegunaan
|
Jumlah perunit
|
Jumlah 1 Batch
|
|
1
|
Oleum Ricini
|
Zat aktif
|
33,33 ml
|
133,32 ml
|
|
2
|
Span 80
|
Emulgator (Fase Minyak)
|
2 ml
|
8 ml
|
|
3
|
Tween 80
|
Emulgator (Fase Air)
|
2 ml
|
8 ml
|
|
4
|
Na CMC
|
Emulgator
|
1 g
|
4 g
|
|
5
|
Na Benzoat
|
Pengawet
|
0,1 g
|
0,4 g
|
|
6
|
BHT
|
Antioksidan
|
0,02 g
|
0,04 g
|
|
7
|
Sorbitol
|
Pemanis
|
2 ml
|
8 ml
|
|
8
|
Aquadest
|
Pelarut
|
Ad 100 ml
|
Ad 400 ml
|
a.
Oleum Ricini
Nama Lain : Minyak
Jarak Minyak jarak adalah minyak lemak
yang diperoleh dengan perasan
dingin biji Ricinus communis L. yang telah dikupas
Pemerian : Cairan
kental, pucat atau kuning pucat atau hamper tidak berwarna, bau lemah; rasa manis kemudian agak pedas, umumnya
memualkan.
Kelarutan
: larut dalam 2,5
bagian etanol (90 %) P , mudah larut dalam etanol mutlak dan dalam asetat glacial P.
Bobot per mL : 0,953 gram – 0,964 gram
Khasiat :
Laksativum.
Penyimpanan :
Dalam wadah tertutup baik, terisi penuh. (Depkes, 1979 : 459)
b.
Air suling
Nama Resmi :
Aqua destillata
Nama Lain :
Aquades, air suling
RM\BM :
H2O\18,02
Pemerian : Cairan
jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Penggunaan : Sebagai fasa cair. (Depkes, 1979 : 96)
c.
Span 80
Nama Resmi : Sorbotin Monooleat
Nama lain : Span 80
Pemerian : Larutan
berminyak, tidak berwarna, bau
karakteristik dari asam lemak
Kelarutan : Praktis tidak larut, tetapi terdispersi
dalam air, dapat bercampur dengan alkohol, seidikit larut dalam minyak kapas.
Peyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai emulgator tipe minyak
HLB
butuh : 4,3 (Rowe, Raymond, et al, 2009 : 675)
d.
Tween 80
Nama Resmi :
Polyoxyethyllene sorbitan monooleate
Nama lain :
Tween 20
Pemerian
: Cairan kental seperti minyak,
jernih kuning, bau karakteristik dari
asam lemak
Kelarutan
:
Mudah larut dalam air, dalam etanol 95 % P, dalam etanol P, sukar larut dalam parafin cair P dan dalam
minyak biji kapas P.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan
:
Sebagai emulgator tipe air
HLB butuh
:15,0 (Rowe, Raymond, et al, 2009 : 549)
e.
Sorbitol
Pemerian : Serbuk, granul atau lempengan; higroskopis;
warna putih; rasa manis
Kelarutan :
Sangat mudah larut dalam air;sukar larut dalam etanol, dan dalam asam asetat
BM :
182,17
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat. (Depkes,
1995 : 756)
f.
Natrium Benzoat
Pemerian :
Granul atau serbuk hablur, putih; tidak berbau atau praktis tidak berbau;stabil
diudara.
Kelarutan :
Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol dan lebih mudah larut
dalam etanol 90%
BM :
144,11
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. (Depkes, 1995
: 584)
g.
Na CMC
Pemerian : Serbuk atau granul, putih sampai krem,
higroskopis.
Kelarutan : Mudah terdispersi dalam air membentuk larutan
koloid, tidak larut dalam etanol, eter, dan pelarut organik lain.
Kegunaan :
Suspending agent (Depkes, 1995 : 175)
h.
BHT
Struktur :
Rumus Molekul : C15H24O
Pemerian :
Hablur padat, putih, bau khas lemah
Kelarutan :
Tidak larut dalam air dan dalam
propilenglikol mudah larut daam etanol, dalam kloroform dan dalam eter.
Kegunaan :
Antioksidan
6.2 Data
Perhitungan Bahan
Oleum
Ricini :
x 100 ml
= 33,33 g x 4 botol = 133,32 ml
Span 80 :
x 100 ml = 4 ml x 4 botol = 16 ml
Tween 80 :
x 100 ml =
4 ml x 4 botol = 16 ml
Na CMC :
x 100
ml = 1 g x 4 botol =
4 g
Air Untuk Na CMC : 1 x 20 =
20 ml x 4 botol = 80 ml
Na Benzoat :
x 100
ml = 0,1 g x 4 botol = 0,4 g
BHT :
x100
ml = 0,02 g x 4 botol = 0,08 g
Sorbitol :
x 100
ml = 2 ml X 4 botol = 8
ml
Aquadest : ad 100 ml x 4 botol
= ad 400 ml
6.3 Data
Pengamatan Evaluasi
|
No
|
Pengujian
|
T1
|
T24
|
T48
|
T96
|
|
1
|
Organoleptis
|
|
|
|
|
|
|
Bentuk
|
Cairan kental
|
Cairan kental
|
Cairan
kental
|
Cairan kental
|
|
|
Warna
|
kuning
|
kuning
|
kuning
|
kuning
|
|
|
Rasa
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Bau
|
Khas oleum ricini
|
Khas oleum ricini
|
Khas oleum ricini
|
Khas oleum ricini
|
|
|
Kekeruhan
|
+
|
+
|
+
|
+
|
|
2
|
pH universal
|
-
|
-
|
-
|
6
|
|
|
pH Meter
|
6,98
|
6,94
|
6,82
|
-
|
|
3
|
BJ (g/ml)
|
1,017
|
0.955
|
1.104
|
0.993
|
|
4
|
Viskositas
|
9000
|
15.000
|
15.000
|
3000
|
|
5
|
Volume Sedimentasi
|
1
|
0.82
|
0.58
|
0.5
|
Keterangan : (-) : Tidak dilakukan pengujian
a.
Bobot
Jenis
1.
W1 : 24.430 g
W2 :
49.850 g
ρ =
ρ =
= 1.017 g/ml
2.
W1 : 22.620 g
W2 :
46.518 g
ρ =
ρ =
= 0,955 g/ml
3.
W1 : 15.778 g
W2 : 26.825 g
ρ =
ρ =
= 1.104 g/ml
4.
W1 : 23.731
W2 : 48.578
ρ =
ρ =
= 0.993 g/ml
b.
Viskositas
|
Jam
|
Spindel
|
Rpm
|
Skala
|
Faktor
|
Viskositas
(cp)
|
|
1
|
61
|
3
|
45
|
200
|
9000
|
|
24
|
62
|
3
|
15
|
1000
|
15000
|
|
48
|
62
|
3
|
15
|
1000
|
15000
|
|
96
|
62
|
3
|
3
|
1000
|
3000
|
c.
Volume
Sedimentasi (F)
|
Jam
|
Vo (mm)
|
Va (mm)
|
F
|
|
1
|
62
|
62
|
1
|
|
24
|
51
|
0,82
|
|
|
48
|
36
|
0,58
|
|
|
96
|
31
|
0,5
|
6.4 Grafik
Evaluasi
a.
Grafik
Perubahan pH Emulsi
b.
Grafik
Viskositas Emulsi
c.
Grafik
Volume Sedimentasi Emulsi
7.
PEMBAHASAN
Emulsi adalah suatu campuran dari dua cairan yang
pada dasarnya tidak saling bercampur. Dalam praktikum ini, kedua cairan tak
saling campur tersebut terdiri dari minyak dan air, dengan Minyak Jarak (Oleum ricini) sebagai zat aktif. Secara
farmakologis, Oleum ricini menurut
Farmakope Indonesia edisi ketiga berkhasiat sebagai laksativum dengan dosis
lazim 5 ml sampai 20 ml per hari. Komponen lainnya dalam emulsi Oleum ricini ini adalah NaCMC, Tween 80,
dan Span 80 sebagai emulgator, Sorbitol sebagai pemanis, Butil Hidroksi Toluen
(BHT) sebagai antioksidan, Natrium Benzoat sebagai pengawet, dan Air sebagai
fase pendispersi. Pembuatan emulsi Oleum ricini dimaksudkan meningkatkan
absorbsi minyak dalam dinding usus halus, mengingat proses pencernaan minyak
dan lemak dalam duodenum juga melalui proses emulsifikasi dengan bantuan garam
empedu. (lachman,2008)
Prinsip pembuatan emulsi ini adalah dengan
mencampurkan fasa minyak dan air dengan bantuan pengadukan. Menurut Lachman,dkk
(2008) jika dua cairan yang tidak saling bercampur diaduk secara mekanis, kedua
fase ini mula-mula cenderung membentuk tetesan-tetesan. Jika pengadukan
dihentikan, tetesan tersebut akan bergabung menjadi satu dengan cepat, dan
kedua cairan tersebut akan memisah kembali. Oleh karena itu, untuk menstabilkan
keadaan suatu emulsi agar tetap dalam keadaan bercampur, ditambahkan bahan
pengemulsi/emulgator yang dapat mencegah koalesensi, yaitu penyatuan tetesan
kecil menjadi tetesan besar dan menjadi satu fase tunggal yang memisah. Berdasarkan
strukturnya, pengemulsi digambarkan sebagai molekul yang terdiri dari
bagian-bagian hidrofilik dan hidrofobik. Nilai yang menunjukkan perbandingan
bagian hidrofilik dan hidrofobik ini disebut Hidrophyl Lipophyl Balance (HLB). Semakin besar nilai HLB, semakin
banyak bagian hidrofilik sehingga pengemulsi lebih mudah larut dalam air.
Berdasarkan nilai HLBnya, Tween 80 dengan nilai HLB 15 berfungsi sebagai
emulgator fasa air, sedangkan Span 80 dengan nilai HLB 4,3 berfungsi sebagai
emulgator fasa minyak. NaCMC dalam emulsi menurut Fardiaz, dkk (1987) tidak
berfungsi sebagai pengemulsi tetapi lebih sebagai senyawa yang memberikan
kestabilan (stabilisator).
Pembuatan emulsi ini dimulai dengan pembuatan
musilago NaCMC dalam air panas karena NaCMC mudah larut dalam air panas. Selain
itu, pada pemanasan dapat terjadi pengurangan viskositas yang bersifat reversible. NaCMC merupakan emulgator
hidrokoloid yang akan terdispersi dalam air, kemudian bagian hidrofil NaCMC
akan menyerap air dan mengembang. Dalam Handbook
of Pharmaceutical Excipients (HOPE) kadar NaCMC sebagai zat pengemulsi
adalah 0,25% - 1%. Maka, kadar NaCMC yang digunakan dalam pembuatan emulsi ini
telah memenuhi persyaratan, yaitu sebesar 1%. Penambahan NaCMC dalam bentuk
musilago ini akan meningkatkan viskositas emulsi dan menghambat terjadinya
koalesensi butiran minyak dan air sehingga dapat menstabilkan keadaan emulsi.
Selanjutnya dilakukan pencampuran emulgator fase
minyak, yaitu Span 80 dengan Oleum ricini
dengan cara diaduk secara mekanis. Sebagaimana proses sebelumnya, pencampuran
ini juga dilakukan dalam keadaan panas, yaitu pada suhu sekitar 60o-70oC.
Keadaan ini dimaksudkan untuk mengurangi viskositas Span 80 dan Oleum ricini
sehingga mempermudah proses pengadukan dan terjadinya emulsifikasi. Kemudian
dilakukan pencampuran emulgator fasa air, yaitu Tween 80 dengan sedikit air
dalam kondisi yang sama.
Zat-zat dalam bentuk padatan, yaitu Na-benzoat, dan
BHT dilarutkan dalam pelarut yang sesuai yang digunakan sebagai bahan dalam
pembuatan emulsi ini. Dalam hal ini, Na-benzoat yang berupa garam dilarutkan
dalam air, dan BHT dilarutkan dalam Sorbitol.
Zat-zat yang telah disiapkan tersebut kemudian
dicampurkan menjadi satu membentuk emulsi dengan metode Anglosaxon/gom basah, yaitu dengan cara memasukkan fasa air dan
fasa minyak ke dalam musilago NaCMC secara bergantian sedikit demi sedikit
sambil terus diaduk. Emulgator-emulgator yang digunakan akan menurunkan
tegangan antarmuka minyak dan air, dan membentuk film antarmuka yang menjadi
halangan bagi kedua zat untuk berkoalesensi. BHT yang bersifat termolabil
dicampurkan pada tahap akhir setelah suhu campuran bahan lainnya menurun,
sehingga kerusakan BHT karena panas dapat dihindari. Na-benzoat dan BHT berfungsi
sebagai bahan pengawet dimana Na-benzoat bekerja dengan mencegah pertumbuhan
mikroba dan BHT mencegah terjadinya oksidasi yang dapat merusak emulsi. Menurut
HOPE, konsentrasi Na-benzoat sebagai pengawet dalam sediaan oral adalah
0,02-0,5%, sedangkan BHT sebagai antioksidan adalah 0,02%. Dengan demikian
konsentrasi Na-benzoat sebesar 0,1% dan BHT 0,02% yang digunakan dalam
pembuatan emulsi ini telah memenuhi persyaratan. Emulsi Oleum ricini yang
dihasilkan termasuk emulsi tipe O/W atau M/A karena dalam emulsi ini fasa
minyak terdispersi dalam fasa air yang jumlahnya lebih dominan.
Emulsi yang telah terbentuk kemudian dievaluasi
selama 96 jam. Evaluasi yang dilakukan meliputi organoleptis, bobot jenis, pH,
viskositas, dan volume sedimentasi. Secara organoleptis, emulsi Oleum ricini
yang dihasilkan berwarna putih kekuningan dengan keadaan bercampur sempurna.
Akan tetapi, pada penyimpanan sejak 24 jam pertama, telah terjadi flokulasi
fasa minyak dan fasa air. Tetapi keadaan tersebut masih dapat diperbaiki dengan
pengocokan. Hal ini dapat terjadi karena proses pengadukan yang kurang lama
sehingga emulgator belum membentuk film pada tiap tetesan dengan sempurna.
Selain itu, dapat pula disebabkan oleh tidak mencukupinya jumlah emulgator yang
digunakan. Menurut kelompok keilmuan teknologi farmasi STFI dalam modul
praktikum farmasi fisika II (2015), nilai HLB butuh untuk emulsi tipe M/A Oleum
ricini adalah 12, sedangkan dalam pembuatan emulsi ini, nilai HLB campuran dari
kedua emulgator adalah 9,65. Nilai ini mempengaruhi jumlah emulgator yang
digunakan. Dalam hal ini, emulgator yang digunakan tidak mencukupi kebutuhan
untuk dapat menghasilkan emulsi yang stabil. Karena terjadinya pemisahan
tersebut maka dapat diukur volume sedimentasi sediaan, yaitu sebesar 0,5 pada
waktu 96 jam. Emulsi yang bagus sebaiknya tidak memiliki volume sedimentasi
dalam waktu penyimpanan yang masih terhitung singkat. Secara keseluruhan,
emulsi yang dihasilkan cukup baik dengan pH yang cukup stabil, yaitu dalam
rentang 6-7, dan rata-rata bobot jenis yang mendekati bobot jenis air, yaitu
1,027 g/ml. Alasan kenapa memakai zat aktif oleum ricini,
karena oleum ricini membuat sediaan emulsi tidak tersatukan air. Sedangkan
untuk zat tambahan nya digunakan emulgator berupa Na.CMC untuk memperkecil
tegangan permukaan dan sebagai pembatas antara air dan minyak. Kemudian untuk
menghindari terjadinya oksidasi ditambahkan BHT (butyl hidroksi asetat) sebagai
antioksidan. Na. benzoate digunakan sebagai pengawet untuk mencegah terjadinya
pertumbuhan bakteri dan jamur. Dan untuk memperbaiki rasa ditambahkan sorbitol
sebagai pemanis.
8.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa
pada saat evaluasi sediaan selama 3 hari terdapat sedimentasi, hal ini tidak
memenuhi persyaratan untuk sediaan emulsi yang baik karena adanya sedimentasi
pada saat di diamkan
9.
LAMPIRAN
a.
Kemasan
Primer
b.
Kemasan Sekunder
c.
Brosur
|
KOMPOSISI:
Tiap 15 mL mengandung.........................Oleum
Ricini 5ml.
CARA KERJA
OBAT:
Oleum ricini mengandung trigliserida dari
asam risinoleat, suatu asam lemak tak jenuh. Didalam usus halus sebagian
zat ini diuraikan oleh enzim lipase dan menghasilkan asam risinoleat yang
memiliki efek stimulasi terhadap usus halus. Setelah 2-8 jam timbul
defekasi yang cair.
INDIKASI:
Oleum ricini diindikasikan sebagai pencahar
yaitu dapat mengatasi susah buang air besar.
KONTRAINDIKASI:
Oleum
ricini tidak boleh digunakan pada wanita hamil.
ATURAN PAKAI:
Dewasa
: 2-4 sendok makan sehari
Anak : 1-3 sendok makan sehari
Dianjurkan
untuk diberikan pada pagi hari waktu perut kosong. Dosis lebih besar tidak
menambah efek pencahar. Efek pencahar terlihat setelah 3 jam.
EFEK SAMPING:
Kolik, mual, muntah,
denyut nadi tidak teratur, kram otot, dan lelah.
KEMASAN:
Botol isi 100ml
PENYIMPANAN:
Disimpan di tempat sejuk
(15 0C-25 0C).
No. Reg : DBL 1600400210A1
No. Batch :
A1610001
Mfg Date : Oktober 2016
Exp. Date : Oktober 2019
Diproduksi Oleh:
PT. TRIFARMA
Bandung – Indonesia
|
|
Lamoni
|
LEMBAR KONTRIBUSI
Tujuan, Prinsip, Dasar
Teori,daftar pustaka : Dini Ayu
Oktaviani (A 141 089)
Alat&Bahan,
Prosedur :
Mita Fajriaturrahmah (A 141 084)
Data Percobaan dan
Aspek Farmakologi : Hani
Nurhanifah (A 141 073)
Pembahasan, Kesimpulan : Fifi
Nur’afiyah (A 141 075)
Yulia
anggraini (A 141 055)
Kemasan :
Mita Fajriaturrahmah (A 141 084)
Editor :
Yulia anggraini (A 141 055)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar