SEDIAAN LIKUID
MAKALAH
Disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Formulasi Sedian Likuid dan
Semisolid
Dosen
Pembina
Sohadi
Warya, M.Si., Apt
Oleh
Fifi Nurafiah Somantri Yulia Anggraini
Diman Agustian Retno Roma Uli
Adrianus Heven Wiwin Sundari
PROGRAM STUDI FARMASI
SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA
YAYASAN HAZANAH
BANDUNG
2016
1.
Metode
Pembuatan Sirup
Berdasarkan
sifat fisika dan kimia bahan-bahannya pembuatan sirup dapat dilakukan dengan
beberapa cara, yaitu:
a.
Larutan yang dibuat dengan bantuan panas
Sirup
dibuat dengan bantuan panas bila dibutuhkan untuk membuat sirup secepat mungkin
dan bila komponen sirup tidak rusak atau menguap oleh panas. Pada cara ini gula
umumnya ditambahkan ke air yang dimurnikan, dan panas digunakan sampai larutan
terbentuk. Kemudian, komponen-komponen lain yang tidak tahan panas ditambahkan
ke sirup panas, campuran dibiarkan dingin, dan volumenya disesuaikan sampai
jumlah yang tepat dan ditambahkan air murni. Dalam keadaan dimana zat-zat tidak
tahan panas atau menguap, seperti misalnya minyak mudah menguap penambah rasa
dan alkohol, maka biasanya ditambahkan ke sirup sesudah larutan gula terbentuk
oleh pemanasan, dan larutan cepat-cepat didinginkan sampai temperatur ruang
(Voigt, 1984).
b.
Larutan yang diaduk tanpa bantuan panas
Untuk
menghindari panas yang merangsang inversi sukrosa, sirup dapat dibuat tanpa
pemanasan dengan pengadukan. Pada skala kecil, sukrosa dari zat formula lain
dapat dilarutkan dalam air murni dengan menempatkan bahan-bahan dalam botol
yang kapasitasnya lebih besar dari pada volume sirup yang akan dibuat, dengan
demikian pengadukan campuran dengan seksama. Proses ini memakan waktu lebih
lama dari pada waktu yang dibutuhkan panas untuk memudahkan melarutnya sukrosa,
tetapi produk tersebut mempunyai kestabilan yang maksimal. Tangki besar dari
stainless ttel atau tangki yang dilapisi gelas dilengkapi dengan pengaduk
mekanik atau pemutar digunakan dalam pembuatan sediaan sirup skala besar
(Voigt, 1984).
c.
Penambahan cairan obat yang dibuat atau
cairan yang diberi rasa
Ada
kalanya cairan obat, seperti tinktur atau ekstrak cair, digunakan sebagai
sumber obat dalam pembuatan sirup. Banyak tinktur-tinktur dan ekstrak seperti
itu mengandung bahan-bahan yang larut dalam alkohol dan dapat dibuat dengan
pembawa ber-alkohol atau hidro alkohol. Akan tetapi bila komponen yang larut
dalam alkohol tidak dibutuhkan atau komponen-komponen yang tidak penting dari
sirup yang sesuai, komponen-komponen tersebut umumnya dihilangkan dengan
mencampur tinktur atau ekstrak kental dalam air, campuran dibiarkan sampai
zat-zat yang tidak larut dalam air terpisah sempurna, dengan menyaringnya dari
campuran. Pada keadaan lain, bila tinktur atau ekstrak kental bercampur dengan
sediaan cair, ini dapat ditambahkan langsung ke sirup biasa atau sirup pemberi
rasa obat (Voigt, 1984).
d.
Dengan perkolasi
Pada
metode ini terdiri dari dua langkah utama, yaitu pembuatan ekstrak obat dan
kemudian pembuatan sirup.
Untuk
perkolasi dapat digunakan perkolator bentuk silinder atau kerucut. Umumnya sukrosa
yang digranul kasar lebih disukai atau dalam Dalam cara perkolasi, sukrosa
dapat diperkolasi untuk membuat sirup, atau sumber komponen obat dapat
diperkolasi untuk menjadi ekstrak yang dapat ditambahkan sirup atau sukrosa.penggunaanya
untuk mencegah gula memadat dengan sangat kuat, dalam keadaan tersebut pelarut
tidak akan menembus kolom dan melarutkan gula. Gumpalan kapas yang diletakkan
pada dasar kolom cukup rapat untuk mencegah gula tidak larut masuk ke dalam
lubang bawah yang cukup longgar untuk memungkinkan sukrosa yang tidak larut
lewat bebas, aliran perkolat bisa diatur dengan mengatur kran pada lubang. Bila
semua sukrosa telah dilarutkan, air murni tambahan atau cairan air yang
dibutuhkan dilewatkan melalui kapas pada perkolator untuk mencuci kapas-kapas
yang di serapi sisa sirup-sirup ke dalam perkolat dan untuk memperoleh produk
akhir dengan volume yang diinginkan (Voigt, 1984).
Gambar 1 : Alur
Proses Pembuatan Sediaan Sirup
2.
Keuntungan
dan Kerugian Sediaan Likuid
2.1 Keuntungan sedian cair (liquid)
a. Absobsi obat lebih cepat di
bandingkan dengan sedian oral lainnya. Urutan kecepatan absobsinya
larutan>emulsi>suspense
b. Cocok untuk penderita yang sukar
menelan.
c. Homogenitas lebih terjamin.
d. Dosis dapat disesuaikan.
e. Dosis obat lebih seragam di
bandingkan sediaan paday, terutama bentuk larutan. Untuk suspense dan emulsi
keseragaman dosis tergantung paa pengocokan.
2.2
Kerugian
sedian cair (liquid)
a.
Tidak
dapat dibuat untuk senyawa obat yang tidak stabil dalam air.
b.
Bagi
obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar di tutupi.
c.
Tidak
praktis.
d.
Takaran
penggunaan obat tidak dalam dosis terbagi, kecuali sediaan dosis tunggal, dan
harus menggunakan alat khusus.
e.
Air
merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri dan merupakan katalis
reaksi.
f.
Pemberian
obat harus menggunakan alat khusus atau oleh orang khusus (sedian parenteral).
3.
Uji
Sifat Fisik dan Kimia Sediaan Sirup dan Eliksir
3.1
Pemeriksaan Organoleptis
Pemeriksaan
ini meliputi warna, bau, rasa. Pada eliksir perlu diperhatikan tidak ada
partikel yang tidak larut.
3.2
Kekentalan atau viskositas
Uji
sifat alir perlu dilakukan untuk mengetahui viskositas dari sirup. Viskositas
adalah suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, semakin
tinggi viskositas akan semakin besar tahanannya (Martin et al., 1993). Suatu
produk yang mempunyai viskositas yang terlalu tinggi umumnya tidak diinginkan
karena sukar dituang dan sukar diratakan kembali (Nash,1996).
a.
Viskometer kapiler / ostwold
Dengan
cara waktu air dari cairan yang diuji dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan
bagi suatu zat yang viskositasnya sudah diketahui (biasanya air) untuk lewat
dua tanda tersebut (moectar 1990).
b.
Viskometer hoppler
Berdasarkan
hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi keseimbangan sehingga gaya
gesek = gaya berat – gaya archimides. Prinsip kerjanya adalah menggelindingkan
bola ( yang terbuat dari kaca ) melalui tabung gelas yang hampir tikal berisi
zat cair yang diselidiki. Kecepatan jatuhnya bola merupakan fungsi dari harga resiprok
sampel. (Moechtar,1990)
c.
Viskometer cup dan pob
Prinsip
kerjanya sample digeser dalam ruangan antara dinding luar dari bob dan dinding
dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan viscometer
ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi
disepanjang keliling bagian tube sehingga menyebabkan penueunan konsentrasi.
Penurunan konsentrasi ini menyebabkan bagian tengah zat yang ditekan keluar
memadat. Hal ini disebut aliran sumbat. (Moechtar,1990)
d.
Viskometer cone dan plate
Dengan
cara sampel ditempatkan ditengah-tengah, kemudian dinaikan hingga posisi
dibawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh motor dengan bermacam kecepatan dan
sampelnya digeser pada ruangan yang sangat sempit antara papan yang didalam kemudian
kerucut yang berputar (Moechtar 1990).
3.3
Bobot jenis
Bobot
jenis dilakkukan untuk mengetahui perbandingan bobot zat terhadap volume air
adalah sama saat ditimbang. Bobot jenis suatu zat dilakukan dengan cara membagi
bobot zat dengan bobot air dalam piknometer. Dimana air digunakan sebagai
standar untuk zat cair dan zat padat (Ansel et al., 2005).
3.4
pH
Sediaan
diukur pH nya dengan menggunakan pH meter, yaitu disesuaikan dengan pH usus
karena sediaan diabsorbsi di usus jadi pH sediaan harus sama dengan pH usus.
3.5
Efektivitas pengawet
Uji
efektivitas pengawet dilakukan untuk mengetahui mutu pengawet yang digunakan.
Pengawet memiliki mutu yang baik apabila mampu mencegah pertumbuhan
mikroorganisme. Cara uji efektivitas pengawetadalah dalam ruangan steril
dibawah laminar air flow. Satu ml larutan diambil menggunakan pipet volume
steril. Larutan yang diambil dimasukkan ke dalam tabung yang berisi media.
Kemudian media yang berisi larutan diinkubasi. Setelah media diinkubasi,
kemudian diamati ada atau tidak kontaminasi pada permukaan media (Jawetz et
al., 1996).
3.6
Stabilitas Kimia
Stabilitas
kimia adalah kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan
sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan, sifat kimia dan karakteristiknya
sarna dengan yang dimilikinya pada saat dibuat. Stabilitas kimia pada sediaan
sirup dilakukan untuk mempertahankan keutuhan kimiawi dan potensiasi yang
tertera pada etiket dalam batas yang dinyatakan dalam spesifikasi.
Uji stabilitas kimia
sediaan sirup :
1.
Identifikasi
2.
Penetapan Kadar
3.7
Uji Stabilitas Secara Mikrobiologi
Stabilitas
mikrobiologi suatu sediaan adalah keadaan di mana sediaan bebas dari
mikroorganisme atau tetap memenuhi syarat batas mikroorganisme hingga batas
waktu tertentu. Stabilitas mikrobiologi pada sediaan sirup untuk menjaga atau
mempertahankan jumlah dan menekan pertumbuhan mikroorganisme yang terdapat
dalam sediaan sirup hingga jangka waktu tertentu yang diinginkan.
Jumlah cemaran mikroba
(uji batas mikroba)
a.
Total bakteri aerob : Tidak lebih dari
10.000 CFU/gram atau ml.
b.
Total Jamur/fungi : Tidak lebih dari 100
CFU/gram atau ml.
DAFTAR PUSTAKA
Moechtar. 1990. Farmasi Fisik. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Moh. Anief. 1997. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press
Syamsuni, A. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG
Voigt, R. 1984. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press
lengkap infonya
BalasHapusSupplier Tas Terbesar
terimaksih, semoga bermanfaat
Hapus