best

https://draft.blogger.com/rearrange?blogID=7230975934311325906§ionId=crosscol&action=editWidget&widgetType=HTML&referrer=directory

Sabtu, 03 Desember 2016

FITOKIMIA

PROPOSAL AWAL
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI  SENYAWA FLAVONOID PADA DAUN ASHITABA (Angelica Keiskei)



Oleh :
FIFI NUR’AFIYAH SOMANTRI
A 141 075
NINDA NURFADILA PUTRI.T
A 141 081


Description: 50511_77789850841_1077815_n2


LABORATORIUM FITOKIMIA
SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA
BANDUNG
2016

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Sebagai negara tropis, Indonesia dikenal kaya  dengan keanekaragaman hayati, termasuk di dalamnya kekayaan yang berupa berbagai jenis tumbuhan yang  secara empiris digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional. Obat tradisional yang merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa perlu dilestarikan dan ditingkatkan kualitasnya melalui pemanfaatan  ilmu pengetahuan dan teknologi Salah satu pemanfaatan tumbuhan obat adalah dengan cara mengisolasi bahan alam tersebut sehingga diperoleh senyawa kimia murni yang dikenal sebagai obat modern seperti contohnya kinin yang diisolasi dari tanaman Cinchona succirubra, teobromin yang diisolasi dari tanaman Teobroma cacao, dan sebagainya. Tumbuhan obat yang sering digunakan adalah daun Ashitaba (Angelica Keiskei). Selama ini tanaman  Ashitaba dikenal dengan kaya dengan antioksidan yang tinggi oleh masyarakat Indonesia.
            Tanaman ashitaba mirip dengan seledri hanya ashitaba keragaan tanamannya lebih tinggi dibandingkan dengan seledri. Tanaman ashitaba berasal dari Pulau Hachijo, Jepang yang tumbuh di daerah tandus, berbatu dan berpasir. Menurut Lee dalam Baba (1995), penduduk yang bermukim di pulau memanfaatkan sebagai sayuran dan hasil pengamatan penduduknya menjadi sehat-sehat. Di Asia Tenggara, tanaman ashitaba dapat tumbuh baik di Lombok Timur yang berlokasi di Kecamatan Sumbawa Desa Sembalum. Perbanyakan ashitaba cukup dengan menggunakan biji yang dihasilkan dari tanaman yang sudah berumur 3-4 tahun dengan cara disemai. Ashitaba juga dapat diolah menjadi teh dengan cara diseduh sehingga pemanfaatannya lebih praktis. Tanaman ini berpotensi sebagai obat karena dari getahnya yang berwarna kuning mengandung zat chalcone. Menurut Ogawa et al. (2005) ashitaba memiliki kemampuan sebagai antihipertensi dan antisroke. Batang, daun maupun umbi tanaman ashitaba jika dipotong akan mengeluarkan getah berwarna kuning disebut chalcone yang termasuk golongan senyawa flavonoid.

1.2  Perumusan Masalah
Rumusan masalah yang mendasari penelitian ini adalah jenis senyawa flavonoid apa yang terdapat dalam daun ashitaba (angelica keishkei).

1.3  Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk  mengetahui jenis senyawa flavonoid yang terdapat dalam daun Ashitaba (Angelica Keiskei).






















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman Ashitaba (Angelica keiskei) adalah tanaman yang berasal dari Jepang dan dimanfaatkan oleh bangsa Tiongkok sebagai obat herbal tradisional untuk meningkatkan energi dalam tubuh dengan menyuplai nutrisi penting dalam darah dan memperbaiki sirkulasi aliran darah (Nagata et al., 2007). Batang, daun dan akar dari ashitaba jika dipotong akan mengeluarkan getah pekat yang berwarna kuning disebut chalcone (Okuyama et al, 1991), yang merupakan senyawa flavonoid xanthoangelol dan 4-hydrooxyderricin (Baba et al., 2009).
2.1 Ashitaba (Angelica keiskei)
Tanaman ashitaba pada Gambar 1 merupakan tanaman yang mirip dengan seledri tetapi tanamannya lebih tinggi dibandingkan seledri.
Gambar 1. Daun Ashitaba (Angelica keiskei) dari daerah NTB

2.1.1 Klasifikasi Tanaman
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Apiales
Familia : Apiaceae
Genus : Angelica
Spesies : Angelica keiskei (Tjitrosoepomo, 2002)


2.1.2. Kandungan Kimia
Kandungan kimia tanaman ashitaba antara lain alkaloid, saponin, dan glikosida yang terdapat pada semua bagian tanaman sedangkan kandungan flavonoid, triterpenoid dan tanin tertinggi terdapat pada bagian daun (Sembiring et al., 2011). Tanaman ashitaba berpotensi sebagai sumber antioksidan (Li et al., 2009) pada bagian daun karena kandungan senyawa tanin (Gambar 2) (Sembiring et al., 2011) dan senyawa chalcone (Gambar 3) yang merupakan senyawa flavonoid xanthoangelol dan 4-hydrooxyderricin (Baba et al., 2009).Ashitaba kaya akan betakaroten, vitamin B1, B2, B3, B5, B6, B12, biotin, asam folik, dan vitamin C serta mengandung mineral seperti kalsium, magnesium, kalium, fosfor, seng, dan tembaga (Baba et al., 2009). 4
 
Description: Image result for rumus struktur tanin terhidrolisis 






                    

Tannin terhidrolisis                                                                                          Tannin Terkondensasi
Gambar 2. Rumus Struktur Senyawa Tanin (Hagerman, 2002)




                Xanthoangelol                                                         4-hydrooxyderricin
Gambar 3. Rumus Struktur Senyawa Xanthoangelol dan 4-hydrooxyderricin (Andarwulan et al., 2010)
2.1.3 Khasiat
Tanaman ashitaba merupakan tanaman yang mirip dengan seledri tetapi tanamannya lebih tinggi dibandingkan seledri. Ashitaba mengandung klorofil yang cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan produksi darah serta keseimbangan fungsi tubuh. Chalcone bermanfaat untuk meningkatkan produksi sel darah merah, meningkatkan perhatian dan konsentrasi, meningkatkan produksi hormon pertumbuhan serta meningkatkan pertahanan tubuh untuk melawan infeksi (Hida, 2007), selain itu berfungsi sebagai antitumorigenic (Shibata, 1994), antibakteri (Inamori et al., 1991), antidiabetik (Enoki et al., 2009), dan antioksidan (Li et al., 2009). Suatu penelitian dari Kang et al (2004) menyatakan bahwa ashitaba bila dikonsumsi dalam bentuk minuman sayur berwarna hijau.

a.      Flavonoid
merupakan salah satu metabolit sekunder, kemungkinan keberadaannya dalam daun dipengaruhi oleh adanya proses fotosintesis sehingga daun muda belum terlalu banyak mengandung flavonoid (Markham, 1988). Senyawa flavonoid adalah senyawa yang mempunyai struktur C6-C3-C6. tiap bagian C6 merupakan cincin benzen yang terdistribusi dan dihubungkan oleh atom C3 yang merupakan rantai alifatik, seperti ditunjukkan pada Gambar 1.
Description: Image result for struktur flavonoid umum






Gambar 1 : Struktur Umum Flavonoid (Achmad, 1986).

Dalam tumbuhan flavonoid terikat pada gula sebagai glikosida dan aglikon flavonoid yang mungkin terdapat dalam satu tumbuhan dalam bentuk kombinasi glikosida (Harbone,1987). Aglikon flavonoid (yaitu flavonoid tanpa gula terikat) terdapat dalam berbagai bentuk struktur (Markham, 1988). Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa C6-C3-C6, artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzena) disambungkan oleh rantai alifatik tiga karbon. Kelas-kelas yang berlainan dalam golongan flavonoid dibedakan berdasarkan cincin heterosiklik-oksigen tambahan dan gugus hidroksil yang tersebar menurut pola yang berlainan (Robinson, 1991). Penggolongan flavonoid berdasarkan penambahan rantai oksigen dan perbedaan distribusi dari gugus hidroksil.

Flavonoid merupakan senyawa pereduksi yang baik, menghambat banyak reaksi oksidasi, baik secara enzim maupun non enzim. Flavonoid bertindak sebagai penampung yang baik radikal hidroksi dan superoksida dengan demikian melindungi lipid membran terhadap reaksi yang merusak. Aktivitas antioksidannya dapat menjelaskan mengapa flavonoid tertentu merupakan komponen aktif tumbuhan yang digunakan secara tradisional untuk mengobati gangguan fungsi hati (Robinson, 1995). Flavonoid merupakan golongan terbesar senyawa fenol alam (Harbone, 1987). Flavonoid merupakan senyawa polar karena mempunyai sejumlah gugus hidroksil yang tak tersulih atau suatu gula, sehingga akan larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, butanol, aseton, dimetilsulfoksida, dimetilformamida, dan air. Adanya gula yang terikat pada flavonoid cenderung menyebabkan flavonoid lebih mudah larut dalam air dan dengan demikian campuran pelarut di atas dengan air merupakan pelarut yang lebih baik untuk glikosida. Sebaliknya, aglikon yang kurang polar seperti isoflavon, flavanon, dan flavon serta flavonol yang termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam pelarut seperti eter dan kloroform (Markham, 1988). Analisa flavonoid lebih baik dengan memeriksa aglikon yang terdapat dalam ekstrak tumbuhan yang telah dihidrolisis sebelum memperhatikan kerumitan glikosida yang ada dalam ekstrak asal (Harbone, 1987).

b.      Antioksidan
Antioksidan merupakan zat yang dapat melawan pengaruh berbahaya dari radikal bebas yang terbentuk sebagai hasil metabolisme oksdatif, yaitu hasil dari reaksi-reaksi kimia dan proses metabolik yang terjadi dalam tubuh (Amrun et al., 2007). Radikal bebas adalah molekul yang memiliki satu elektron yang tidak berpasangan sehingga menyebabkan radikal bebas menjadi senyawa yang sangat reaktif terhadap sel-sel tubuh dengan cara mengikat elektron molekul sel (Pietta, 1999). Radikal bebas pada konsentrasi yang tinggi atau yang sering disebut proses oksidasi dapat menyebabkan kerusakan struktur sel, kerusakan lipid, kerusakan protein, dan kerusakan DNA sehingga perlu ditangkal oleh antioksidan. Hal penting pada senyawa antioksidan adalah kemampuannya untuk menangkap dan menstabilkan radikal bebas (Prakash, 2001). Manfaat lain antioksidan yaitu membantu tubuh melawan berbagai macam radikal bebas yang masuk dalam tubuh dan sangat baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh serta memperlambat proses penuaan. Berdasarkan sumbernya, antioksidan dibedakan menjadi antioksidan sintetik dan antioksidan alami (Hernani and Rahardja, 2005).


















BAB III
TATA KERJA
3.1 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimental dengan tahapan kerja sebagai berikut yaitu penyiapan sampel atau bahan tumbuhan dari daun Ashitaba, isolasi kandungan kimia berdasarkan metode yang umum untuk isolasi senyawa bahan alam dari tumbuhan melalui tahap ekstraksi secara dingin yaitu maserasi dan dilanjutkan dengan pemisahan menggunakan kromatografi lapis tipis dan pemurnian, uji fitokimia identifikasi senyawa dengan spektrofotometri UV-Vis.

3.2 Alat
Alat-alat yang digunakan pada penelitian yaitu oven, neraca analitik, blender, chamber KLT, lampu UV 366 nm, spektrofotometer UV-vis, aluminium foil, Plat silika gel G60 F254, rotary evaporator, water batch, kertas saring, pipa kapiler dan peralatan gelas.

3.3 Bahan
Bahan utama : Daun Ashitaba
Bahan lain atau pelarut : etanol 96%, aquades, etil asetat, metanol. Amoniak.
Bahan untuk kromatografi : BAW, selulose, n-butanol.
3.4  Prosedur penelitian
3.4.1        Persiapan sampel
Sampel yang digunakan adalah daun Ashibata (Angelica keiskei.). Daun Ashitaba dibersihkan dari sisa-sisa tanah dengan menggunakan air mengalir. Daun kemudian dipotong kecil-kecil untuk memudahkan pengeringan. Pengeringan dilakukan dalam oven pada suhu 600C selama 3-4 hari. Sampel yang sudah kering kemudian diserbuk dengan mesin penyerbuk (blander) dan ditimbang dengan neraca Ohauss . (Sutrisna dkk., 2009).
3.4.2 Uji Identifikasi Senyawa Flavonoid
Sebanyak 2 gram simplisia atau 0,5 gram ekstrak didihkan dengan 100 ml air panas selama 5 menit, kemudian disaring. Terhadap 5 ml filtrate tambahkan besiIIIklorida akan terbentuk warna biru kehitaman, penambahan basa atau amoniak akan mebentuk warna kuning atau fluoresene hijau tergantung dari jenis flavonoid, penambahan sitroborat akan menghasilkan warna putih, dan penambhan alumuniumIIIklorida akan menghasilkan warna kuning
3.4.3 Pembuatan Ekstrak Ashitaba
Sebanyak 100 gram batang dan daun ashitaba di ekstraksi dengan menggunakan pelarut ethanol direndam selama 6 jam sambil dikocok dengan menggunakan alat shaker kemudian didiamkan selama 18 jam, filtrate yang diperoleh dipekatkan dengan vakum rotavapor sampai diperoleh ekstrak kental.
3.4.4 Fraksinasi Ekstak Ashitaba
            Ekstrak yang didapat ditambahkan dengan HCl 2 M lalu dipanaskan 30-40 menit pada 100oC untuk menghidrolisis gula yang terikat dengan flavonoid dalam bentuk glikosida. Filtrate yang didapat disaring dan dilakukan ekstraksi cair-cair bertingkat dengan heksana-etil asetat-etanol. Fraksi yang didapat dilakukan KCV dengan dengan gradient elusi n-heksan-etil asetat 30:1 sampai 1:1, didapat 10 fraksi dan di tampung dalam vial lalu dilakukan identifikasi dengan KLT menggunakan eluen Benzene : etil asetat dengan perbandingan 95 : 5 dan 90 : 10. Vial yang diduga mengandung senyawa flavonoid dilakukan proses KCV kembali untuk lebih menseleksi senyawa selain flavonoid. Lalu akan didapat beberapa vial untuk dilakukan identifikasi senyawa flavonoid menggunakan KLT dengan menggunakan eluen yang sama.


3.4.5 Isolasi Dengan Kromatografi Lapis Tipis
            Plat KLT disiapkan lalu di totolkan sejumlah ekstrak dengan pipa kapiler lalu dikembangkan dengan pengembang eluen Benzene : etil asetat dengan perbandingan 95 : 5 dan 90 : 10. Hasil pemisahan dengan KLT diuapi dengan NH3 kemudian di lihat nilai rf sesuai dengan literatur kemudian dilakukan pembacaan  pada lampu UV 254 dan 366.
3.4.6 Identikasi Dengan UV vis
Isolat-isolat hasil KLT di kerok dan dilarutkan dengan etanol dan kemudian disentrifugasi untuk memisakan senyawa murni hasil KLT kemudian diidentifikasi dengan spektrofotometer UV-vis dengan menggunakan ethanol sebagai larutan baku pembanding. Dilihat panjang gelombang dari senyawa flavonoid. Lalu ditambahkan pereaksi geser yaitu NaOH kedalam larutan flavonoid lalu dicek menggumakam spektrotofometri UV dan dilihat pergesaran batokromik yang terjadi pada spectrum.
















DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Sjamsul Arifin. 1986. Kimia Organik Bahan Alam. Jakarta: Penerbit Karunika.

Depkes, R.I. 1985. Cara pembuatan simplisia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 45 hlm.

Harborne, L.B. 1987. Metode fitokimia. Penuntun cara modern menganalisa tumbuhan. Terjemahan K. Radmawi- nata dan I. Soediso, Penerbit ITB, Bandung. 135 hlm.

Markham, R.K. 1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoid. ITB : Bandung.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar