ELIXIR
DIFENHIDRAMIN HCl MENGGUNAKAN ALAT HOMOGENIZER
1.
TUJUAN
1.1
Mengetahui cara
pembuatan
elixir dengan formula yang cocok dan
mudah digunakan.
1.2
Menentukan formula dari basis elixir yang cocok untuk pembuatan sediaan elixir
1.3
Mahasiswa dapat
membuat preformulasi dari sediaan elixir Difenhidramin dan dapat
menguji sediaan tersebut dengan berbagai uji.
2.
PRINSIP
2.1
Berdasarkan pembuatan elixir dengan pelarut utama etanol dan beberapa zat tambahan seperti gula atau pemanis, pengawet, pewangi dan pewarna.
2.2
Berdasarkan evaluasi terhadap pH dan kejernihan dari sediaan.
3.
TEORI
Dalam istilah kimia farmasi, larutan dapat
dipersiapkan dari campuran yang mana saja dari tiga macam keadaan zat yaitu
padat, cair dan gas, misalnya suatu zat terlarut padat dapat dilarutkan baik
dalam zat padat lainnya, cairan atau gas, dengan cara yang sama untuk zat
rerlarut dan gas, ada 9 tipe campuran homogen yang mungkin dibuat.
Bagaimanapun, dalam farmasi perhatian terhaap larutan sebagian besar
terbataspada pembuatan larutan dari suatu zat padat, zat cair dalam suatu
pelarut cair dan tidak begitu sering larutan suatu gas dalam pelarut cair.
Dalam istilah farmasi, larutan didefinisikan
sebagai sediaan”cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat
larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karerna bahan-bahannya, cara
peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan ke dalam golongan produk
lainnya”. Sesungguhnya, banyak produk farmasi yang menurut prinsip kimia fisik
merupakan campuran homogen dari zat-zat terlarut yang dolarutkan dalam pelarut,
menurut prinsip farmasi digolongkan ke dalam jenis produk lainnya. Misalnya
larutan obat-obat dalam air yang mengandung gula digolongkan sebagai syrup;
larutan yang mengandung hidroalkohol yang diberi gula (kombinasi dari air dan
etil alkohol) disebut eliksir.
Larutan oral, syrup dan eliksir, dibuat dan
digunakan karena efek tertentu dari zat obat yang ada. Dalam sediaan ini zat
obat umumnya diharapkan memberikan efek sistemik. Kenyataan bahwa obat-obat itu
diberikan dalam bentuk larutan, biasanya berarti bahwa apsorpsinya dalam sistem
saluran cerna ke dalam sirkulasi sistemik dapat diharapkan terjadi lebih cepat
dari pada dalam bentuk sedaan suspensi atau padat dari zat obat yang sama.
Obat-obat cair menampilkan masalah menarik
dalam rancangan bentuk sediaan. Banyak diantaranya merupakan zat-zat yang mudah
menguap oleh karena harus disegel secara fisik dari atmosfer untuk menjamin
keberadaannya. Masalah lainnya adalah bahwa obat-obat tersebut dimaksudkan
untuk pemberian obat pada umumnya tidak dapat diformulasikan menjadi bentuk
tablet, tanpa mengalami modifikasi obat yang besar.
Eliksir obat digunakan untuk keuntungan
pengobatan dari zat obat yang ada. Umumnya, eliksir-eliksir resmi yang ada
diperdagangkan mengandung zat obat tunggal. Keuntungan utama dari hanya satu
obat tunggal yang terkandung, bahwa dosis yang diperlukan dapat dinaikkan atau
diturunkan dengan meminum eliksir lebih banyak atau kurang, padahal bila dua
atau lebih zat obat ada dalam sediaan yang sama, tidak mungkin meningkatkan
atau menurunkan kadar satu zat obat yang diminum tanpa secara otomatis dan
bersamaan mengatur dosis obat lain yang ada, perubahan yang tidak diinginkan.
Karena itu untuk pasien yang memerlukan minum
lebih dari satu obat, banyak dokter memilih untuk minum sediaan yang terpisah
dari tiap obat sehingga bila dibutuhkan pengaturan dosis satu obat, dapat
dikerjakan tanpa dosis obat lainnya secara bersamaan ikut diatur. Eliksir
analgetik/ antipiretik paracetamol 300 mg/10 ml digunakan untuk mengurangi/
menghilangkan nyeri dan menurunkan demam terutama pada pasien yang tidak tahan
terhadap aspirin. Eliksir terutama digunakan untuk pasien pediatrik
(anak-anak).
Larutan ialah sediaan cair yang mengandung
bahan kimia terlarut, sebagai pelarut digunakan air suling kecuali dinyatakan
lain. Untuk larutan (Solutio) steril yang digunakan sebagai obat luar harus
memenuhi syarat yang tertera pada Injectiones. Di samping wadah harus mudah
dikosongkan dengan cepat, besarnya kemasan boleh lebih dari 1 liter. Eliksir
adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap, selain obat
mengandung juga zat tambahan seperti gula atau zat pemanis lain, zat warna, zat
pewangi dan zat pengawet, dan digunakan sebagai obat dalam. Sebagai pelarut
utama eliksir adalah etanol yang dimaksudkan mempertinggi kelarutan obat. Dapat
ditambahkan gliserol, sorbitol dan propilenglikol. Sirop gula dapat digunakan
sebagai pengganti gula. Eliksir supaya disimpan dalam wadah tertutup rapat.
Mixture dan solution tidak ada perbedaan prinsip dalam pengertian, hanya
dikatakan larutan (Solutio) apabila zat yang terlarut hanya satu dan disebut
Mixtura apabila zat yang terlarut adalah banyak. Contoh Solutio Citratis
Magnesici dan Mixtura Brometorum.
Larutan terjadi apabila suatu zat padat
bersinggungan dengan suatu cairan, maka zat padat tadi terbagi secara molecular
dalam cairan tersebut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut
adalah kelarutan pada suhu 20˚, kecuali dinyatakan lain menunjukkan 1 bagian
bobot zat pada atau 1 bagian volume zat cair larut dalam bagian volume tertentu
pelarut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah
kelarutan pada suhu kamar. Pernyataan
bagian dalam kelarutan berarti 1 g zat padat atau 1 ml zat cair dalam sejumlah
ml pelarut.
Eliksir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai
rasa dan bau yang sedap, mengandung selain obat juga zat tambahan seperti gula
dan atau zat pemanis lainnya, zat pengawet, zat warna, dan zat pewangi, untuk
digunakan sebagai obat dalam. Sebagai pelarut utama digunakan etanol 90% yang
dimaksudkan untuk mempertinggi kelarutan obat. Dapat ditambahkan gliserol,
sorbitol dan propilenglikol. Sebagai pengganti gula dapat ditambahkan sirup
simpleks. Konsentrasi alkohol yang terdapat dalam sediaan berdasarkan FDA :
· Anak <6 tahun
maksimal 0,5%
Anak 6-12 tahun
maksimal 5%
· Anak >12 tahun dan
dewasa maksimal 10%
Dalam RSP 2005 halaman 756, disebutkan
bahwa eliksir termasuk kedalam golongan larutan non-aqueous dengan kandungan
alkohol bervariasi mulai dari 3-5% sampai 21-23%.
Definisi Larutan dan Elixir
- Menurut FI III hal 32: Larutan adalah
sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, kecuali dinyatakan lain
sebagai pelarut digunakan air suling. Larutan steril yang digunakan
sebagai obat luar harus memenuhi syarat yang tertera pada injectiones.
Wadah harus dikosongkan dengan cepat, kemasan boleh lebih dari 1 liter.
- Menurut FI IV hal 13: Larutan adalah
sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang
terlarut,missal : terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai
atau campuran pelarut yang saling bercampur.
- Menurut Formularium Nasional hal 332: Larutan adalah
sediaan cair yang dibuat dengan melarutkan satu jenis obat atau lebih
didalam pelarut, dimasudkan untuk digunakan sebagai obat dalam, obat luar
atau yang dimasudkan kedalam organ tubuh.
- Menurut Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi hal 304: Larutan
didefinisikan sebagai sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat
kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air yang karena
bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya tidak dimasukkan kedalam
golongan produk lainnya. Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu
atau lebih zat yang terlarut.
- Menurut FI III: Elixir adalah
sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap, mengandung
selain obat, juga zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya,
zat warna, zat wangi dan zat pengawet; digunakan sebagai obat dalam.
Sebagai pelarut utama digunakan etanol yang dimaksudkan untuk mempertinggi
kelarutan obat. Dapat ditambahkan Gliserol, sorbitol dan propilenglikol;
sebagai pengganti gula dapat digunakan sirop gula.
- Menurut M. Anief: Eliksir adalah
larutan oral yang mengandung etanol 90 % yang berfungi sebagai kosolven.
- Menurut Ansel 19: Eliksir adalah
larutan hidroalkohol yang jernih dan manis dimaksudkan untuk penggunaan
vital, dan biasanya diberi rasa untuk menambah kelezatan. Eliksir
bukan obat yang digunakan sebagai pembawa tetapi eliksir obat untuk efek
terapi dari senyawa obat yang dikandungnya. Dibandingkan dengan sirup,
eliksir biasanya kurang manis dan kurang kental karena mengandung kadar
gula yang lebih rendah dan akibatnya kurang efektif dibanding sirup dalam
menutupi rasa senyawa obat. Walaupun demikian, karena sifat hidroalkohol,
eliksir lebih mampu mempertahankan komponen-komponen larutan yang larut
dalam air dan yang larut dalam alkohol daripada sirup. Juga karena
stabilitasnya yang khusus dan kemudahan dalam pembuatannya, dari sudut
pembuatan eliksir lebih disukaidari sirup.
Hal-hal yang dianggap perlu dalam pembuatan
eliksir :
1. Pertumbuhan kristal yang disebabkan oleh
perubahan suhu, keseragaman ukuran, dll.
2.
Ketercampuran zat aktif dengan pelarut campur ataupun zat tambahan untuk
menghindari terjadinya pengendapan. Dasar pemilihan pelarut campur :
toksisitas, kelarutan konstanta dielektrik pelarut, ketercampuran bahan.
3. Untuk penambahan sirupus simpleks lebih
dari 30% harus diperhatikan terjadinya cap locking pada tutup botol sediaan.
Karena itu perlu diberikan anti cap locking.
4. Peningkat rasa seperti pemanis perlu
diberikan untuk meningkatkan penerimaan, ditambahkan juga rasa dan warna yang
sesuai.
5. Untuk sediaan oral, pemilihan zat aktif
perlu memperhatikan pemerian.
6. Pemanis yang dapat digunakan : gula,
sirupus simpleks, sorbitol, siklamat, aspartam.
7. Karena ada komponen air dalam sediaan
maka perlu ditambahkan pengawet.
8. Sediaan eliksir yang baik harus
mempunyai viskositas yang cukup untuk memudahkan penuangan. Pelarut campur yang
digunakan : etanol, propilenglikol, gliserol, sorbitol
4.
ALAT DAN BAHAN
4.1
Alat
yang digunakan
a.
Homogenizer f. Spatel
b.
Gelasukur g. Botolbening
100 ml
c.
Beaker
glass h. pH
meter dan pH universal
d.
Batangpengaduk i. Piknometer
e.
Pipettetes j. Viskometer
Ostwald
4.2
Bahan
a.
DifenhidraminHCl
b.
Aquadest
c.
Etanol
d.
Minyak
permen (Oleum Menthae)
e.
Sirup
simplex
4.3 Formulasi
Elixir
Difenhidramin HCl
Volume
elixir 60 ml.
Tiap 5
ml mengandung :
R/ Difenhidramini Hydrochloridum 12,5
mg
Etanol 90% 350 μl
Sirupus simplex 0,5 ml
Oleum Menthae Piperritae 19 mg
Aquadest q.s
|
Cara Pakai
|
Umur
|
DosisLazim
|
DosisMaksimum
|
|
|
>12 tahun
|
25 mg sekali
|
100 mg sekali
|
|
|
|
100 mg/hari
|
250 mg/hari
|
5.
PROSEDUR
5.1
Prosedur Kerja
Difenhidramin HCl ditimbang
sebanyak 600 mg dan dilarutkan dalam aquadest. Oleum Menthae Piperitae
dilarutkan dalam etanol 90%. Dicampurkan kedua bahan kedalam beaker glass dan
diaduk dengan Homogenizer 5000 rpm. Ditambahkan aquadest sampai 240 ml.
5.2
Prosedur Evaluasi
5.2.1
Organoleptis
Pada evaluasi organoleptis dilakukan pengamatan warna, bentuk, bau
dan kekeruhan pada jangka waktu 1 jam, 24 jam, 48 jam, dan 96 jam.
5.2.2
pH
Pada evaluasi pH dilakukan dengan pH meterdan pH universal.
Pertama-tama dilakukan dengan pengujian dengan pH meter dimana dilakukan
dikalibrasi terlebih dahulu. Setelah dikalibrasi batang pH meter dimasukan
kedalam sampel dan mendapatkan hasil. Pada uji pH universal, kertas indicator
dimasukan kedalam sampel. Warna pada kertas dibandingkan dengan ketentuan pH yang
tertera pada kotak. pH pada sampel diukur selama 4 hari.
5.2.3
Bobot
Jenis
Dilakukan evaluasi bobot jenis yang menggunakan piknometer.
Piknometer dibasuhi dengan etanol dan masukan ke dalam oven setelah itu
ditimbang piknometer kosong dengan tutup.Setelah itu diisi piknometer dengan sampel
perlahan-lahan sampai tidak ada gelembung udara didalamnya kemudian ditimbang pikno
tersebut setelah itu dihitung massa jenisnya dengan rumus :
.
5.2.4
Viskositas
Selanjutnya dilakukan dengan evaluasi viskositas dengan menggunakan
viscometer ostwald. Pertama-tama dimasukan larutan kedalam viscometer Ostwald
sampel dihisap sampai batas atas dan dibiarkan mengalir di batas bawah. Dicatat
waktu akhir larutan sampai batas akhir dan dilakukan perhitungan viskositas
dengan rumus :
=
.
6.
DATA PENGAMATAN
6.1
Data Praformulasi
6.1.1
Zat Aktif
Difenhidramin
HCl
Struktur:

Pemerian : serbuk hablur; putih; tidak berbau. Jika terkena cahaya, perlahan-lahan warna menjadi gelap. Larutan praktis netral terhadap
kertas lakmus p.
Kelarutan : mudah larut dalam air, dalam etanol dan dalam kloroform; agak
sukar larut dalam aseton; sangat sukar larut dalam benzene dan dalam eter.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya, pada suhu
ruang.
Dosis : dosis lazim dewasa 25 mg sekali/100 mg sehari
Titik leleh :167-172°c
Khasiat : antihistamin
6.1.2
Zat Tambahan
a.
Aethanolum ( Etanol )
Pemerian
: Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak; bau khas; rasa
panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan
: sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P.
Titik didih
: 78oC
Stabilitas :
terhadap udara higroskopis. (FI III:65)
b.
Aqua destillata
Pemerian
: Cairan Jernih tidak berwarna, Tidak
mempunyai rasa dan Tidak berbau
Titik
didih : 1000C
Pka/pkb
: 8,4
Bobot
Jenis : 1 gr/cm3 atau 1 gr/ml
pH
larutan : 7
Stabilitas
: Stabil diudara
c.
Oleum Minthae
Khasiat : Zat tambahan sebagai pengaroma dan
karminatif (FI III, 458)
Pemerian : Cairan tidak berwarna, kuning pucat atau
kuning kehijauan, bau aromatic, rasa pedas dan hangat kemudian dingin. (FI III, 458)
Kelarutan : Larut dalam etanol (70%)P, larutan agak beropalesensi dengan etanol
mutlak P. (FI III, 458)
d.
Syirup Simplex
Pemerian: Cairan jernih, tidak berwarna
Penetapan kadar memenuhi syarat penetapan
sakarosa yang tertera pada sirupi
Penyimpanan dalam wadah tertutup
rapat, di tempat sejuk.( Farmakope
Indonesia Edisi 3 halaman 567)
6.2
Data Pengamatan
6.2.1
Perhitungan Bahan 1 Botol
DifenhidraminHCl : 12,5 mg x 12 = 150 mg
Etanol 90% :
x 60 ml =
4,2 ml
Sirupus simplex :
x 60 ml =
6 ml
Oleum Menthae :
1 tetes = 19 mg
Aquadest :
ad = 60 ml
6.2.2
Perhitungan Bahan 1 Botol
DifenhidraminHCl : 150 mg x 4 = 600 mg
Etanol 90% :
4,2 ml x 4 = 16,8 ml
Sirupus simplex :
6 ml x 4 = 24 ml
Oleum Menthae :
1 tetes x 4 = 76 mg
Aquadest : ad = 240 ml
6.2.3
Evaluasi
|
No
|
Pengujian
|
1 jam
|
24 jam
|
48 jam
|
96 jam
|
|
1.
|
Organoleptis
|
|
|
|
|
|
|
Bau
|
+
|
+
|
++
|
++
|
|
|
Warna
|
keruh
|
+
|
+
|
+
|
|
|
Endapan
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Kejernihan
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
2.
|
PH
|
|
|
|
|
|
|
PH
universal
|
5
|
5
|
5
|
5
|
|
3.
|
Viskositas
|
0,68poise
|
0,68
|
0,68
|
0,68
|
|
4.
|
Volume Sedimentasi
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
5.
|
BJ
|
1,22
g/ml
|
|
|
|
Keterangan
: (-) =
Tidak ada endapan, Jernih
(+) = Agak Keruh
(++) = Keruh
7.
PEMBAHASAN
Praktikum teknologi
formulasi sediaan liquid kali ini dilakukan pembuatan elixir Difenhidramin HCl
12,5/5ml dengan menggunakan alat homogenizer. Volume atau bobot sediaan 60ml perbotol.
Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan elixir dengan formula yang cocok dan mudah
digunakan, menentukan formula dari basis elixir
yang cocok untuk pembuatan sediaan elixir, serta dapat membuat preformulasi dari sediaan elixir Difenhidramin HCl dan dapat
menguji sediaan tersebut dengan berbagai uji.
Bahan-bahan
tambahan yang digunakan pada praktikum kali yaitu etanol 90%, sirupus simplex,
oleum mentae, dan aquadest. Adapun fungsi dari bahan tersebut yaitu etanol 90%
berfungsi sebagai kosolven (pelarut), sirupus simplex berfungsi sebagai
pemanis, oleum mentae berfungsi sebagai pewangi, dan aquadest berfungsi sebagai
pelarut.
Elixir
adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap, mengandung
selain obat, juga zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya, zat
warna, zat wangi dan zat pengawet; digunakan sebagai obat dalam. Sebagai
pelarut utama digunakan etanol yang dimaksudkan untuk mempertinggi kelarutan
obat. Dapat ditambahkan Gliserol, sorbitol dan propilenglikol; sebagai
pengganti gula dapat digunakan sirop gula (FI III, Hal ).
Pada
praktikum kali ini Difenhidramin HCl dibuat dalam sediaan elixir dengan tujuan
untuk meningkatkan kelarutan dari obat karena bersifat hidroalkohol sehingga sediaan
elixir lebih mampu mempertahankan komponen larutan yang larut dalam air dan
larut dalam alkohol dibandingkan daripada sirup. Selain itu Difenhidramin HCl
mempunyai bentuk serbuk hablur. Karena salah satu faktor kecepatan bahan obat
untuk melarut adalah tergantung pada ukuran partikel bahan, semakin halus
serbuk, maka makin besar luas permukaan yang mengalami kontak dengan pelarut
dan proses pelarutan semakin cepat.
Pertama
dilakukan persiapan bahan dan alat yang akan digunakan pada proses pembuatan.
Mula-mula disiapkan botol bersih lalu dikalibrasi 60ml. Kemudian ditimbang
sebanyak 600 mg Difenhidramin HCl, lalu dilarutkan kedalam aquadest karena Difenhidramin
HCl larut dalam air. Setelah itu dilarutkan oleum menthae dalam etanol 90%
karena oleum mentae tidak dapat larut dalam aquadest, oleh karena itu untuk
meningkatkan kelarutannya digunakan etanol. Setelah oleum mentae larut,
dicampurkan dengan difenhidramin HCl menggunakan alat homogenizer. Karena
dengan menggunakna homogenizer dapat menaikkan kelarutan ketika pengocokkan
dengan kecepatan 5000 rpm, karena salah satu yang memepengaruhi kelarutan adalah
proses pengadukan, semakin besar pengadukan semakin cepat pembentukan larutan.
Kemudian
ditambahkan aquadest
sampai 240 ml. Setelah didapatkan sediaan dilakukan
evaluasi selama 4 hari yaitu organoleptis meliputi (warna, bau, bentuk
(endapan), dan kekeruhan), pH, bobot jenis (BJ), viskositas, dan volume
sedimentasi. Pengujian organoleptis dilakukan untuk mengetahui warna, bau,
bentuk (endapan), dan kekeruhan pada sediaan dengan melakukan pengamatan pada
waktu 1 jam, 24 jam, 48 jam,
dan 96 jam. Hasil yang didapatkan warna keruh, dan
tidak terjadi perubahan warna sampai hari ke-4 (96 jam). Untuk bau dari sediaan
yaitu berbau mentol. Pada waktu 1 jam dan 24 jam bau dari sediaan tetap. Tetapi
pada waktu 48 jam dan 96 jam bau bertambah tajam. Bentuk sediaan ini larutan
dan tidak terdapat endapan. Dan kekeruhan pada sediaan ini hasilnya tetap keruh
selama pengamatan.
Pada
pengujian pH sama dengan pengujian organoleptis diamati selama 4 hari. Hasil
yang didapatkan pada hari pertam pH sediaan tersebut yaitu 5. Hasilnya tidak
berubah selama pengamatan. Hasil ini sesuai dengan literatur pH Difenhidramin
HCl ini berkisar antara 4-6. Selanjutnya dilakukan pengujian bobot jenis
sediaan.
Pengujian
bobot jenis ini dilakukan menggunakan piknometer. Piknometer dibasuhi dengan etanol dan masukan ke
dalam oven tujuannya agar pikno bersih dan terhindar dari pengotor. Setelah itu
ditimbang piknometer kosong dengan tutup, lalu diisi piknometer dengan sampel
perlahan-lahan sampai tidak ada gelembung udara didalamnya kemudian ditimbang
pikno tersebut setelah itu dihitung massa jenisnya. Hasil yang didapatkan bobot
jenis dari sediaan elixir Difenhidramin HCl adalah 1,22 g/ml. Hasil ini
menunjukkan bobot jenis yang mendekati bobot jenis air yaitu 1 mg/ml, hal ini
dikarenakan pada proses pembuatan menggunakan pelarut aquadest.
Kemudiaan dilakukan pengujian viskositas. Pengujian
ini dilakukan menggunakan alat viskometer ostwald. Pertama-tama dimasukan larutan
kedalam viscometer ostwald sampel dihisap sampai batas atas dan dibiarkan mengalir
di batas bawah. Dicatat waktu akhir larutan sampai batas akhir dan dilakukan
perhitungan viskositas. Hasil yang didapatkan viskositas sediaan elixir
Difenhidramin HCl yaitu 0,68 poise. Pengujian terakhir yaitu volume
sedimentasi. Pengujian ini dilakukan dengan mengamati endapan yang terbentuk.
Berdasarkan pengamatan tidak terdapat endapan yang terbentuk pada sediaan. Maka
sediaan ini tidak memiliki volume sedimentasi.
8.
ASPEK FARMAKOLOGI
Efek Farmakologi
Difenhidramin
HCl merupakan salah satu golongan obat antialergi dan obat untuk anafilaksis,
yaitu obat yang digunakan dalam terapi untuk pengobatan gejala sakit alergi dan
gejala sakit oleh karena terjadi anafilaksis, terhadap/oleh karena pengaruh
lingkungan.
Indikasi:
Gejala alergi seperti batuk, gatal-gatal di tenggorokan, pilek, bersin-bersin,
gatal di kulit, mabuk perjalanan, antiparkinsonisme, insomnia jangka pendek dan
sementara.
Kontra Indikasi: Asma
akut, glaukoma, kesukaran dalam mengosongkan kandung kencing, dua minggu sebelumnya
menggunakan obat golongan MAO Inhibitor, bayi dan ibu menyusui, hipersensitif,
terapi antibiotik ototoksik, hipertiroidisme, hipertensi, tukak peptic.
Perhatian:
Tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor/menjalankan mesin, hati-hati
penggunaan pada penderita epilepsi, prolatiza, penyakit jantung.
Efek samping:
Mengantuk, retensi urine, mulut kering, gangguan pencernaan, sedasi.
Dosis:
Dosis
Lazim 1 x = 25 mg , 1 hari = 100 mg
Dosis
Maximum 1 x = 100 mg , 1 hari = 250 mg
Mekanisme kerja:
Difenhidramin berkompetisi dengan histamin bebas untuk mengikat reseptor H1.
Difenhidramin bersifat antagonis kompetitif terhadap efek histamin pada saluran
gastrointestinal, uterus, pembuluh darah besar, dan otot bronkial. Penghambatan
reseptor H1 juga menekan pembentukan edema, panas dan gatal yang disebabkan
oleh histamin.
9.
KESIMPULAN
Berdasarkan
praktikum yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Difenhidramin HCl dibuat
dalam sediaan elixir karena memiliki bentuk serbuk hablur.
10.
LAMPIRAN
a. Kemasan
Primer

b. Kemasan
Sekunder

c. Brosur
![]() |
DAFTAR PUSTAKA
Ditjen
POM. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi
III. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Martin
Alfred, dkk. 1993. Farmasi Fisika.
Edisi III. Jakarta : Universitas Indonesia
Sinko. J. P. 2006. Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika. Jakarta : ECG
Lembar
Distribusi
Tujuan, Prinsip, Dasar Teori,daftar pustaka : Fifi Nur’afiyah (A 141 075)
Alat&Bahan, Prosedur, Perhitungan : Dini
Ayu Oktaviani
(A 141 089)
Yulia
anggraini (A 141 0
Data Pengamatan, Pembahasan, Kesimpulan : Mita
Fajriaturrahmah
(A 141 0)
: Hani Nurhanifah (A141 073)
Kemasan : Ferry Arhandy ( A 141 0 )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar