Maret
2015,
Aku
menuliskanmu sebagai ayat-ayat cinta di dalam doa. Kepada tuhan, kumintakan kau
bahkan tanpa jeda. Tiada lagi yang aku ingin lebih dari aku menginginkan tuhan
segera mempertemukan kita.
Aku
mencintaimu, bahkan sebelum takdir temu mempertemukan senyumku dan senyummu.
Aku menyayangimu, bahkan sebelum genggam tanganku menggenggam tanganmu. Aku
merindukanmu, bahkan sebelum tubuhku sanggup memelukmu. Aku mendoakanmu, bahkan
seringkali aku lupa untuk mendoakanku.
Saat
ini, bolehkah aku bertanya, kemana lagi aku harus mencari keberadaanmu? Selain
di dalam doa, hati, dan pikiranku. Karena ketiga tempat itu sudah penuh akan
tanyaku tentangmu. Bahkan mereka sudah begitu muak menjawab Tanya-tanyaku.
Tuhan
maha baik, aku percaya itu. Bagaimana tidak? Tuhan mengirimkanmu, bahkan jauh
dari apa yang aku mintakan dalam doa-doaku sebelum namamu tak bernama. Dan aku
percaya, pertemuan kita bukanlah sebuah kebetulan yang tak memiliki alasan.
Seperti
apapun langkah kita menuju masa depan. Semoga tetap ke tubuhmu langkah kaki ini
dilangkahkan. Dan atas segala keraguan, semoga tuhan lekas memberi titik
terang.
Aku
mencintaimu, laki-laki terhebatku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar