best

https://draft.blogger.com/rearrange?blogID=7230975934311325906§ionId=crosscol&action=editWidget&widgetType=HTML&referrer=directory

Kamis, 26 Mei 2016

For Perfecting My Fainth

Maret 2015,    
            Aku menuliskanmu sebagai ayat-ayat cinta di dalam doa. Kepada tuhan, kumintakan kau bahkan tanpa jeda. Tiada lagi yang aku ingin lebih dari aku menginginkan tuhan segera mempertemukan kita.
Aku mencintaimu, bahkan sebelum takdir temu mempertemukan senyumku dan senyummu. Aku menyayangimu, bahkan sebelum genggam tanganku menggenggam tanganmu. Aku merindukanmu, bahkan sebelum tubuhku sanggup memelukmu. Aku mendoakanmu, bahkan seringkali aku lupa untuk mendoakanku.
Saat ini, bolehkah aku bertanya, kemana lagi aku harus mencari keberadaanmu? Selain di dalam doa, hati, dan pikiranku. Karena ketiga tempat itu sudah penuh akan tanyaku tentangmu. Bahkan mereka sudah begitu muak menjawab Tanya-tanyaku.
Tuhan maha baik, aku percaya itu. Bagaimana tidak? Tuhan mengirimkanmu, bahkan jauh dari apa yang aku mintakan dalam doa-doaku sebelum namamu tak bernama. Dan aku percaya, pertemuan kita bukanlah sebuah kebetulan yang tak memiliki alasan.
Seperti apapun langkah kita menuju masa depan. Semoga tetap ke tubuhmu langkah kaki ini dilangkahkan. Dan atas segala keraguan, semoga tuhan lekas memberi titik terang.

Aku mencintaimu, laki-laki terhebatku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar