September
2015,
Di
hadapanmu, aku seperti sedang bercermin. Kita beda yang di samakan tuhan. Kita
cinta yang di satukan tuhan. Senyummu, mata sipitmu, tawamu, hangat pelukmu,
seluruhmu juga bagian dari aku.
Kita
sama-sama menyebalkan, kita sama-sama banyak kemauan, kita sama-sama keras
kepala. Benar, bukan? Mengangguklah, lalu tersenyum iya, inilah kita. Dua hati,
dua kepala, dua cinta.
Setiap
kali memandangimu, aku selalu menemukan cinta. Betapa ingin ku lihat kau
bahagia. Dan betapa ingin aku pantas membahagiakanmu dalam bahagia yang
sempurna.
Memilikimu,
aku pantas bersyukur. Ya. Aku bersyukur. Aku bersyukur. Aku bersyukur. Betapa
aku benar-benar merasa tuhan denganku sedang begitu cinta.
Bagiku,
bagimu cinta itu nyata, sejahat apapun dunia cinta kita akan tetap begini
adanya.
Kita
akan bersama-sama. Tidak akan ku biarkan kau hidup sendirian. Bila suatu hrai
kau lupa ingatan, peluk aku seerat yang kau mau. Karena hatimu tidak akan
pernah lupa, jika tubuhku adalah sebaik-baik rumah untuk hati dan jiwamu.