best

https://draft.blogger.com/rearrange?blogID=7230975934311325906§ionId=crosscol&action=editWidget&widgetType=HTML&referrer=directory

Sabtu, 03 Desember 2016

MAKALAH SEDIAN LIKUID

SEDIAAN LIKUID
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Formulasi Sedian Likuid dan Semisolid

Dosen Pembina
Sohadi Warya, M.Si., Apt

Oleh
Fifi Nurafiah Somantri                      Yulia Anggraini
Diman Agustian                                Retno Roma Uli
Adrianus Heven                                Wiwin Sundari

PROGRAM STUDI FARMASI
SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA
YAYASAN HAZANAH
BANDUNG
2016
1.             Metode Pembuatan Sirup
Berdasarkan sifat fisika dan kimia bahan-bahannya pembuatan sirup dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
a.         Larutan yang dibuat dengan bantuan panas
Sirup dibuat dengan bantuan panas bila dibutuhkan untuk membuat sirup secepat mungkin dan bila komponen sirup tidak rusak atau menguap oleh panas. Pada cara ini gula umumnya ditambahkan ke air yang dimurnikan, dan panas digunakan sampai larutan terbentuk. Kemudian, komponen-komponen lain yang tidak tahan panas ditambahkan ke sirup panas, campuran dibiarkan dingin, dan volumenya disesuaikan sampai jumlah yang tepat dan ditambahkan air murni. Dalam keadaan dimana zat-zat tidak tahan panas atau menguap, seperti misalnya minyak mudah menguap penambah rasa dan alkohol, maka biasanya ditambahkan ke sirup sesudah larutan gula terbentuk oleh pemanasan, dan larutan cepat-cepat didinginkan sampai temperatur ruang (Voigt, 1984).

b.        Larutan yang diaduk tanpa bantuan panas
Untuk menghindari panas yang merangsang inversi sukrosa, sirup dapat dibuat tanpa pemanasan dengan pengadukan. Pada skala kecil, sukrosa dari zat formula lain dapat dilarutkan dalam air murni dengan menempatkan bahan-bahan dalam botol yang kapasitasnya lebih besar dari pada volume sirup yang akan dibuat, dengan demikian pengadukan campuran dengan seksama. Proses ini memakan waktu lebih lama dari pada waktu yang dibutuhkan panas untuk memudahkan melarutnya sukrosa, tetapi produk tersebut mempunyai kestabilan yang maksimal. Tangki besar dari stainless ttel atau tangki yang dilapisi gelas dilengkapi dengan pengaduk mekanik atau pemutar digunakan dalam pembuatan sediaan sirup skala besar (Voigt, 1984).
c.         Penambahan cairan obat yang dibuat atau cairan yang diberi rasa
Ada kalanya cairan obat, seperti tinktur atau ekstrak cair, digunakan sebagai sumber obat dalam pembuatan sirup. Banyak tinktur-tinktur dan ekstrak seperti itu mengandung bahan-bahan yang larut dalam alkohol dan dapat dibuat dengan pembawa ber-alkohol atau hidro alkohol. Akan tetapi bila komponen yang larut dalam alkohol tidak dibutuhkan atau komponen-komponen yang tidak penting dari sirup yang sesuai, komponen-komponen tersebut umumnya dihilangkan dengan mencampur tinktur atau ekstrak kental dalam air, campuran dibiarkan sampai zat-zat yang tidak larut dalam air terpisah sempurna, dengan menyaringnya dari campuran. Pada keadaan lain, bila tinktur atau ekstrak kental bercampur dengan sediaan cair, ini dapat ditambahkan langsung ke sirup biasa atau sirup pemberi rasa obat (Voigt, 1984).

d.        Dengan perkolasi
Pada metode ini terdiri dari dua langkah utama, yaitu pembuatan ekstrak obat dan kemudian pembuatan sirup.
Untuk perkolasi dapat digunakan perkolator bentuk silinder atau kerucut. Umumnya sukrosa yang digranul kasar lebih disukai atau dalam Dalam cara perkolasi, sukrosa dapat diperkolasi untuk membuat sirup, atau sumber komponen obat dapat diperkolasi untuk menjadi ekstrak yang dapat ditambahkan sirup atau sukrosa.penggunaanya untuk mencegah gula memadat dengan sangat kuat, dalam keadaan tersebut pelarut tidak akan menembus kolom dan melarutkan gula. Gumpalan kapas yang diletakkan pada dasar kolom cukup rapat untuk mencegah gula tidak larut masuk ke dalam lubang bawah yang cukup longgar untuk memungkinkan sukrosa yang tidak larut lewat bebas, aliran perkolat bisa diatur dengan mengatur kran pada lubang. Bila semua sukrosa telah dilarutkan, air murni tambahan atau cairan air yang dibutuhkan dilewatkan melalui kapas pada perkolator untuk mencuci kapas-kapas yang di serapi sisa sirup-sirup ke dalam perkolat dan untuk memperoleh produk akhir dengan volume yang diinginkan (Voigt, 1984).
Gambar 1 : Alur Proses Pembuatan Sediaan Sirup

2.             Keuntungan dan Kerugian Sediaan Likuid
2.1  Keuntungan sedian cair (liquid)
a.       Absobsi obat lebih cepat di bandingkan dengan sedian oral lainnya. Urutan kecepatan absobsinya larutan>emulsi>suspense
b.      Cocok untuk penderita yang sukar menelan.
c.       Homogenitas lebih terjamin.
d.      Dosis dapat disesuaikan.
e.       Dosis obat lebih seragam di bandingkan sediaan paday, terutama bentuk larutan. Untuk suspense dan emulsi keseragaman dosis tergantung paa pengocokan.
2.2  Kerugian sedian cair (liquid)
a.    Tidak dapat dibuat untuk senyawa obat yang tidak stabil dalam air.
b.    Bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar di tutupi.
c.    Tidak praktis.
d.   Takaran penggunaan obat tidak dalam dosis terbagi, kecuali sediaan dosis tunggal, dan harus menggunakan alat khusus.
e.    Air merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri dan merupakan katalis reaksi.
f.     Pemberian obat harus menggunakan alat khusus atau oleh orang khusus (sedian parenteral).

3.             Uji Sifat Fisik dan Kimia Sediaan Sirup dan Eliksir
3.1    Pemeriksaan Organoleptis
Pemeriksaan ini meliputi warna, bau, rasa. Pada eliksir perlu diperhatikan tidak ada partikel yang tidak larut.

3.2    Kekentalan atau viskositas
Uji sifat alir perlu dilakukan untuk mengetahui viskositas dari sirup. Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, semakin tinggi viskositas akan semakin besar tahanannya (Martin et al., 1993). Suatu produk yang mempunyai viskositas yang terlalu tinggi umumnya tidak diinginkan karena sukar dituang dan sukar diratakan kembali (Nash,1996).
a.         Viskometer kapiler / ostwold
Dengan cara waktu air dari cairan yang diuji dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu zat yang viskositasnya sudah diketahui (biasanya air) untuk lewat dua tanda tersebut (moectar 1990).
b.        Viskometer hoppler
Berdasarkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi keseimbangan sehingga gaya gesek = gaya berat – gaya archimides. Prinsip kerjanya adalah menggelindingkan bola ( yang terbuat dari kaca ) melalui tabung gelas yang hampir tikal berisi zat cair yang diselidiki. Kecepatan jatuhnya bola merupakan fungsi dari harga resiprok sampel. (Moechtar,1990)
c.         Viskometer cup dan pob
Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan antara dinding luar dari bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi disepanjang keliling bagian tube sehingga menyebabkan penueunan konsentrasi. Penurunan konsentrasi ini menyebabkan bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebut aliran sumbat. (Moechtar,1990)
d.        Viskometer cone dan plate
Dengan cara sampel ditempatkan ditengah-tengah, kemudian dinaikan hingga posisi dibawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh motor dengan bermacam kecepatan dan sampelnya digeser pada ruangan yang sangat sempit antara papan yang didalam kemudian kerucut yang berputar (Moechtar 1990).

3.3    Bobot jenis
Bobot jenis dilakkukan untuk mengetahui perbandingan bobot zat terhadap volume air adalah sama saat ditimbang. Bobot jenis suatu zat dilakukan dengan cara membagi bobot zat dengan bobot air dalam piknometer. Dimana air digunakan sebagai standar untuk zat cair dan zat padat (Ansel et al., 2005).

3.4    pH
Sediaan diukur pH nya dengan menggunakan pH meter, yaitu disesuaikan dengan pH usus karena sediaan diabsorbsi di usus jadi pH sediaan harus sama dengan pH usus.

3.5    Efektivitas pengawet
Uji efektivitas pengawet dilakukan untuk mengetahui mutu pengawet yang digunakan. Pengawet memiliki mutu yang baik apabila mampu mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Cara uji efektivitas pengawetadalah dalam ruangan steril dibawah laminar air flow. Satu ml larutan diambil menggunakan pipet volume steril. Larutan yang diambil dimasukkan ke dalam tabung yang berisi media. Kemudian media yang berisi larutan diinkubasi. Setelah media diinkubasi, kemudian diamati ada atau tidak kontaminasi pada permukaan media (Jawetz et al., 1996).

3.6    Stabilitas Kimia
Stabilitas kimia adalah kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan, sifat kimia dan karakteristiknya sarna dengan yang dimilikinya pada saat dibuat. Stabilitas kimia pada sediaan sirup dilakukan untuk mempertahankan keutuhan kimiawi dan potensiasi yang tertera pada etiket dalam batas yang dinyatakan dalam spesifikasi.
Uji stabilitas kimia sediaan sirup :
1.        Identifikasi
2.        Penetapan Kadar

3.7    Uji Stabilitas Secara Mikrobiologi
Stabilitas mikrobiologi suatu sediaan adalah keadaan di mana sediaan bebas dari mikroorganisme atau tetap memenuhi syarat batas mikroorganisme hingga batas waktu tertentu. Stabilitas mikrobiologi pada sediaan sirup untuk menjaga atau mempertahankan jumlah dan menekan pertumbuhan mikroorganisme yang terdapat dalam sediaan sirup hingga jangka waktu tertentu yang diinginkan.
Jumlah cemaran mikroba (uji batas mikroba)
a.         Total bakteri aerob : Tidak lebih dari 10.000 CFU/gram atau ml.
b.        Total Jamur/fungi : Tidak lebih dari 100 CFU/gram atau ml.



DAFTAR PUSTAKA
Moechtar. 1990. Farmasi Fisik. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Moh. Anief. 1997. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Syamsuni, A. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG

Voigt, R. 1984. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

LAPORAN PRAKTIKUM FORMULASI SEDIAAN SEMI SOLID DAN LIKUID EMULSI OLEUM RICINI

EMULSI OLEUM RICINI
1.             TUJUAN
A.      Mahasiswa dapat memahami proses pembuatan sediaan emulsi.
B.       Mahasiswa dapat menentukan nilai HLB butuh yang digunakan dalam pembuatan sediaan emulsi.
C.       Mahasiswa dapat mengetahui pengaruh nilai HLB terhadap stabilitas emulsi.
D.      Mahasiswa mampu memahami evaluasi sediaan emulsi.

2.             PRINSIP
A.      Penentuan nilai HLB butuh minyak yang digunakan dalam pembuatan emulsi sesuai dengan konsentrasi surfaktan sesuai formulasi.
B.       Pembuatan sediaan emulsi dengan terlebih dahulu mencampurkan fase air dengan tween 80 dan fase minyak dengan span 80, kemudian kedua fase tersebut dicampurkan pada suhu 70oC hingga terbentuk suatu emulsi.
C.       Evaluasi stabilitas sediaan emulsi dengan  mengamati apakah terjadinya pemisahan antara fase minyak dan fase air dalam suatu system emulsi.

3.             TEORI
3.1    Definisi Emulsi
Emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan air merupakan fase pembawa, sistem ini disebut emulsi air dalam minyak. Sebaliknya, jika air atau larutan air yang merupakan fase terdispersi dan minyak atau bahan seperti minyak merupakan fase pembawa, sistem ini disebut sistem emulsi air dalam minyak.
Emulsi dapat distabilkan dengan penambahan bahan pengemulsi yang mencegah koalesensi, yaitu penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan akhirnya menjadi satu fase tunggal yang memisah. Bahan pengemulsi (Surfaktan) menstabilkan dengan cara menempati antar permukaan antara tetesan dan fase eksternal, dan dengan membuat batas fisik disekeliling partikel yang akan berkoalesensi. Surfaktan juga mengurangi tegangan antar permukaan antar fase, sehingga meningkatkan proses emulsifikasi selama pencampuran.
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok. Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak tercampur, biasanya air dan minyak, di mana cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain. (Depkes, 1979 : 56)
Dispersi ini tidak stabil, butir-butir ini bergabung (koalesen) dan membentuk dua lapisan air dan minyak yang terpisah. Zat pengemulsi (emulgator) merupakan komponen yang paling agar memperoleh emulsa yang stabil. Sebagai emulgator agar-agar dilarutkan dulu dalam air panas dan dibiarkan sehari semalam lalu didihkan lagi. Dalam air dingin agar-agar tidak larut tetapi mengembang dan larutannya 0,5% agar-agar masih berupa selai.
Digunakan larutan agar-agar sebagai emulgator, adalah karena viskositas larutannya yang tinggi, maka itu penggunaannya sebagai emulgator adalah merupakan campuran dengan emulgator lain seperti, PGA, Span dan Tween, Tragacantha. Setelah dibuat larutan lalu dibuat emulsi dengan minyaknya dengan diaduk kuat-kuat dengan mixer (alat pencampur). Semua emulgator bekerja dengan membentuk film (lapisan) di sekeliling butir-butir tetesan yang terdispersi dan film ini berfungsi agar mencegah terjadinya koalesen dan terpisahnya cairan dispers sebagai fase terpisah. Terbentuk dua macam tipe emulsi yaitu wemulsi tipe M/A di mana tetes minyak terdispersi dalam fase air dan tipe A/M di mana fase intern adalah air dan fase extern adalah minyak. Zat pengemulsi adalah P.G.A., Tragacantha, Gelatin, Sapo, Senyawa Ammonium kwartener, Cholesterol, Surfactan seperti Tween, Spaan dan lain-lainnya. Untuk menjaga stabilnya emulsi perlu diberi pengawet yang cocok.

Emulsa dapat dibedakan dalam:
  1. Emulsa Vera (Emulsi alam)
a.       Kuning telur : Cara Pembuatan emulsi dengan kuning telur dalam mortir luas dan digerus dnegan stemper kuat-kuat, setelah itu dimasukkan minyaknya sedikit demi sedikit, lalu diencerkan dengan air dan disaring dengan kasa.
b.      Adeps lanae.
c.       Emulgator mineral
d.      Magnesium Aluminuin Silikat ( Veegum ) : Cara Pembuatan diapaki 1%
e.       Bentonit : Cara Pembuatan 5% bentonit yang digunakan.
  1. Emulsa Spuria (Emulsi buatan)
Tween : Ester dari sorbitan dengan asam lemak disamping mengandung ikatan eter dengan oksi etilen, berikut macam-macam jenis tween .
a.    Tween  20 : Polioksi etilen sorbitan monolaurat, cairan seperti minyak.
b.    Tween  40 : Polioksi etilen sorbitan monopalmitat, cairan seperti minyak.
c.    Tween 60: Polioksi etilen sorbitan monostearat,semi padat seperti minyak.
d.   Tween 80 : Polioksi etilen sorbitan monooleat, cairan seperti minyak.
Span : Ester dari sorbitan dengan asam lemak. Berikut jenis span:
a.    Span 20 : Sorbitan monobiurat, cairan.
b.    Span 40 : Sorbitan monopulmitat, padat seperti malam.
c.    Span 60 : Sorbitan monooleat, cair seperti minyak.
d.   Komponen Tambahan yaitu bahan tambahan yang sering ditambahkan ke dalam emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya : pewarna, pengaroma, perasa, dan pengawet.
Pembuatan emulsi minyak lemak biasanya dibuat dengan emulgator gom arab, dengan perbandingan untuk 10 bagian minyak lemak dibuat 100 bagian emulsi. Gom arab yang digunakan adalah separo jumlah minyak lemak. Sedangkan air yang digunakan adalah 1,5 x berat PGA.
3.2    Definisi Sulfaktan
Surfaktan merupakan molekul yang memiliki gugus polar yang suka air (hidrofilik) dan gugus non polar yang suka minyak (lipofilik) sekaligus, sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari minyak dan air. Surfaktan adalah bahan aktif permukaan, yang bekerja menurunkan tegangan permukaan cairan, sifat aktif ini diperoleh dari sifat ganda molekulnya. Bagian polar molekulnya dapat bermuatan positif, negatif ataupun netral, bagian polar mempunyai gugus hidroksil semetara bagian non polar biasanya merupakan rantai alkil yang panjang. Surfaktan pada umumnya disintesis dari turunan minyak bumi dan limbahnya dapat mencemarkan lingkungan, karena sifatnya yang sukar terdegradasi, selain itu minyak bumi merupakan sumber bahan baku yang tidak dapat diperbarui.

3.3    Tipe Emulsi
Salah satu fase cair dalam suatu emulsi terutama bersifat polar (sebagai contoh air), sedangkan lainnya relatif non polar (sebagai contoh minyak).
1.        Bila fase minyak didispersikan sebagai bola-bola ke seluruh fase kontinu air, sistem tersebut dikenal sebagai suatu emulsi minyak dalam air (o/w).
2.        Bila fase minyak bertindak sebagai fase kontinu, emulsi tersebut dikenal sebagai produk air dalam minyak (w/o).
Emulsi yang dipakai untuk obat luar bertipe o/w atau w/o, untuk tipe o/w menggunakan zat penegemulsi disamping beberapa yang dikemukakan tadi yakni natrium lauril sulfat, trietanolamin stearat.
Untuk memperoleh emulsi yang stabil perlu diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :
1.        Penggunaan zat-zat yang mempertinggi viskositas.
2.        Perbandingan opimum dari minyak dan air. Emulsi dengan minyak 2/3-3/4 bagian meskipun disimpan lama tidak akan terpisah dalam lapisan-lapisan.
3.        Penggunaan alat khusus untuk membuat emulsa homogen.
3.4    Adapun keuntungan Sediaan Emulsi :
1.         Banyak bahan obat yang mempunyai rasa dan susunan yang tidak menyenangkan dan dapat dibuat lebih enak pada pemberian oral bila diformulasikan menjadi emulsi.
2.         Beberapa obat menjadi lebih mudah diabsorpsi bila obat-obat tersebut diberikan  secara oral dalam bentuk emulsi.
3.         Emulsi memiliki derajat elegansi tertentu dan mudah discuci bila diinginkan.
4.         Formulator dapat mengontrol penampilan, viskositas, dan kekasaran (greasiness)  dari emulsi kosmetik maupun emulsi dermal.
5.          Emulsi telah digunakan untuk pemberian makanan berlemak secara intravena  akan lebih mudah jika dibuat dalam bentuk emulsi.
6.         Aksi emulsi dapat diperpanjang dan efek emollient yang lebih besar daripada jika  dibandingkan dengan sediaan lain.
7.         Emulsi juga memiliki keuntungan biaya yang penting daripada preparat fase tunggal, sebagian besarlemak dan pelarut-pelarut untuk lemak yang dimaksudkan untuk pemakaian ke dalam tubuh manusia relatif memakan biaya, akibatnya pengenceran dengan suatu pengencer yang aman dan tidak mahal seperti air sangat diinginkan dari segi ekonomis selama kemanjuran  dan penampilan tidak dirusak.  (Lachman, dkk., (2008)  : 1029)
     
3.5    Adapun  kerugian emulsi :
Emulsi kadang-kadang sulit dibuat dan membutuhkan tehnik pemprosesan khusus. Untuk menjamin karya tipe ini dan untuk membuatnya sebagai sediaan yang berguna, emulsi harus memiliki sifat yang diinginkan dan menimbulkan sedikit mungkin masalah-masalah yang berhubungan. (Lachman, dkk., (2008) : 1031).
Dikenal beberapa fenomena ketidak stabilan emulsi yaitu :
1.    Flokulasi dan Creaming
Ini terjadi karena penggabungan partikel yang disebabkan oleh adanya energi bebas permukaan saja. Flokulasi adalah terjadinya kelomok-kelompok globul yang letaknya tidak beraturan di dalam suatu emulsi. Creaming adalah terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi yang berbeda-beda di dalam suatu emulsi. Lapisan dengan konsentrasi yang paling pekat akan berada di sebelah atas atau disebelah bawah tergantung dari bobot jenis fasa yang terdispersi.
2.    Koalesen dan Demulsifikasi
  Fenomena ini terjadi bukan karena semata-mata karena energi bebas permukaan saja, tetapi juga karena tidak semua globul terlapis oleh film antar permukaan. Koalesen adalah terjadinya penggabungan globul-globul menjadi lebih besar, sedangkan demulsifikasi adalah merupakan proses lebih lanjut dari koalesen dimana kedua fasa terpisah menjadi dua cairan yang tidak bercampur. Kedua fenomena ini tidak dapat diperbaiki dengan pengocokan.
Dalam pembuatan suatu emulsi, pemilihan emulgator merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Salah satu emulgator yang aktif permukaan adalah surfaktan. Mekanisme kerja emulgator ini adalah menurunkan tegangan antar permukaan air dan minyak serta membentuk lapisan film pada permukaan globul-globul fasa terdispersinya.
Secara kimia molekul surfaktan terdiri atas gugus polar dan nonpolar. Apabila surfaktan dimasukkan ke dalam suatu sistem yang terdiri dari air dan minyak, maka gugus polar akan terarah ke fasa air sedangkan gugus non polar terarah ke gugus ke fasa minyak. Surfaktan yang memiliki gugus polar lebih kuat akan cenderung membentuk emulsi minyak dalam air, sedangkan bila gugus nonpolar yang lebih kuat maka akan membentuk emulsi air dalam minyak. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan tentang kekuatan gugus polar-nonpolar dari surfaktan. Metode yang dapat digunakan untuk menilai efisiensi emulgator yang ditambahkan adalah  metode HLB (Hydrophilic-Lipophilic Balance).

3.6    Nilai HLB
 HLB adalah angka yang menunjukkan perbandingan antara senyawa hidrofilik (suka air) dengan senyawa oleofilik (suka minyak). Semakin besar harga HLB berarti semakin banyak kelompok senyawa yang suka air. artinya, emulgator tersebut lebih mudah larut dalam air dan demikian sebaliknya. kegunaan suatu emulgator ditinjau dari harga HLB-nya. Berikut adalah harga dan kegunaan HLB:
1 – 3 Anti foaming agent
4 – 6 Emulgator tipe w/o
7 – 9 Bahan pembasah ( wetting agent)
8 – 18 Emulgator tipe o/w
13 – 15 Detergent
10 – 18 Kelarutan (solubilizing agent)

4.             ALAT DAN BAHAN
4.1         Alat
Alat-alat yang digunakan pada proses pembuatan emulsi oleum ricini adalah kertas perkamen, spatel, beaker glass, gelas ukur, penjepit tabung, batang pengaduk, pipet tetes, mixer jadul, hot plate.
Alat-alat yang digunakan pada evaluasi emulsi oleum ricini (minyak jarak) adalah pikonometer, Viskometer Brookfield, pH meter, pH universal.

4.2         Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada proses pembuatan emulsi Oleum ricini (minyak jarak) adalah Oleum ricini (minyak jarak), Span 80, Tween 80, NaCMC, Natrium Benzoat, BHT, Sorbitol dan Aquadest.

5.             PROSEDUR
5.1         Prosedur Kerja
Mula-mula dikalibrasi botol. Lalu ditimbang dan diukur bahan-bahan yang akan digunakan. Kemudian dikembangkan Na CMC dengan air panas sebanyak 80 ml. Setelah mengembang, ditambahkan teween 80 kedalam Na CMC. Setelah itu dilarutkan tween 80 dengan aquadest sampai larut, kemudian dipanaskan. Lalu mucilago dimasukkan kedalam campuran diaduk hingga homogen. Kemudian ditambahkan campuran span 80 dan oleum ricini sedikit demi sedikit, diaduk hingga homogen sambil dipanaskan. Setelah itu ditambahkan BHT yang telah dilarutkan dengan sorbitol. Lalu campuran diaduk dengan menggunakan mixer. Ditambahkan Na benzoat yang sebelumnya sudah dilarutkan dalam aquadest, diaduk hingga homogen. Setelah itu ditambahkan aquadest sampai 400 ml, lalu campuran tersebut dimasukkan kedalam botol.

5.2         Prosedur Evaluasi
5.2.1        Organoleptis
Pada evaluasi organoleptis dilakukan pengamatan warna, bentuk, bau dan kekeruhan pada jangka waktu 1 jam, 24 jam, 48 jam, dan 96 jam.
5.2.2        pH
Pada evaluasi pH dilakukan dengan pH meter dan pH universal. Pertama-tama dilakukan dengan pengujian dengan pH meter dimana dilakukan dikalibrasi terlebih dahulu dengan buffer pH 4, 7, dan 9. Setelah dikalibrasi batang pH meter dimasukan kedalam sampel dan mendapatkan hasil. Pengujian dilakukan pada waktu 1 jam, 24 jam, 48 jam, dan 96 jam.
Pada uji pH universal, kertas indikator dimasukan kedalam sampel. Warna pada kertas dibandingkan dengan ketentuan pH yang tertera pada kotak. pH pada sampel diukur pada jangka waktu 1 jam, 24 jam, 48 jam, dan 96 jam.
5.2.3        Bobot Jenis
Pada evaluasi bobot jenis dilakukan dengan menggunakan piknometer. Piknometer dibasuhi dengan etanol dan masukan ke dalam oven setelah itu ditimbang piknometer kosong dengan tutup. Setelah itu diisi piknometer dengan sampel perlahan-lahan sampai tidak ada gelembung udara didalamnya kemudian ditimbang pikno tersebut setelah itu dihitung massa jenisnya.
5.2.4        Viskositas
Pada evaluasi viskositas dilakukan dengan menggunakan viscometer brookfield. Disiapkan alat viscometer brookfield diletakkan pada posisi yang benar dengan mengatur letak gelembung udara tepat berada ditengah lingkaran. Kemudian diatur kecepatan (rpm) yang sesuai, dan dipilih spindle yang akan digunakan. Lalu turunkan spindle sampai terselup kedalam sampel. Setelah itu dibaca skala pada piringan viscometer. Kemudian dihitung viskositasnya.
5.2.5        Volume Sedimentasi
Pada evaluasi volume sedimentasi dilakukan dengan cara mengamati volume awal sediaan dengan pembacaan skala milimeter block. Setelah didiamkan beberapa hari diamati volume akhir dengan terjadinya sedimentasi terhadap volume yang diukur.

6.             DATA PENGAMATAN
6.1  Tabel Preformulasi
No
Nama
Kegunaan
Jumlah perunit
Jumlah 1 Batch
1
Oleum Ricini
Zat aktif
33,33 ml
133,32 ml
2
Span 80
Emulgator (Fase Minyak)
2 ml
8 ml
3
Tween 80
Emulgator (Fase Air)
2 ml
8 ml
4
Na CMC
Emulgator
1 g
4 g
5
Na Benzoat
Pengawet
0,1 g
0,4 g
6
BHT
Antioksidan
0,02 g
0,04 g
7
Sorbitol
Pemanis
2 ml
8 ml
8
Aquadest
Pelarut
Ad 100 ml
Ad 400 ml




a.       Oleum Ricini
Nama Lain           : Minyak Jarak Minyak jarak adalah minyak lemak   yang diperoleh   dengan perasan dingin biji Ricinus communis L. yang telah dikupas
Pemerian              : Cairan kental, pucat atau kuning pucat atau hamper tidak berwarna, bau lemah; rasa manis kemudian agak pedas, umumnya memualkan.
Kelarutan            : larut dalam 2,5 bagian etanol (90 %) P , mudah   larut dalam etanol mutlak dan dalam asetat glacial P.
Bobot per mL      : 0,953 gram – 0,964 gram
Khasiat                : Laksativum.
Penyimpanan       : Dalam wadah tertutup baik, terisi penuh. (Depkes, 1979 : 459)
b.      Air suling
Nama Resmi        : Aqua destillata
Nama Lain           : Aquades, air suling
RM\BM               : H2O\18,02
Pemerian              :  Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak   berasa
Penyimpanan       : Dalam wadah tertutup rapat.
Penggunaan         : Sebagai fasa cair. (Depkes, 1979 : 96)

c.       Span 80
Nama Resmi        : Sorbotin Monooleat
Nama lain            : Span 80
Pemerian              :  Larutan berminyak, tidak berwarna, bau   karakteristik dari asam lemak
Kelarutan             : Praktis tidak larut, tetapi terdispersi dalam air, dapat bercampur dengan alkohol, seidikit larut dalam minyak  kapas.
Peyimpanan         : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan            : Sebagai emulgator tipe minyak
HLB butuh            : 4,3 (Rowe, Raymond, et al, 2009 : 675)

d.      Tween 80
Nama Resmi        : Polyoxyethyllene sorbitan monooleate
Nama lain            : Tween 20
Pemerian              : Cairan kental seperti minyak, jernih kuning, bau  karakteristik dari asam lemak
Kelarutan             : Mudah larut dalam air, dalam etanol 95 % P, dalam etanol P,  sukar larut dalam parafin cair P dan dalam minyak biji kapas P.
Penyimpanan       : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan            : Sebagai emulgator tipe air
HLB butuh        :15,0 (Rowe, Raymond, et al, 2009 : 549)

e.       Sorbitol
Pemerian              :  Serbuk, granul atau lempengan; higroskopis; warna putih; rasa manis
Kelarutan             : Sangat mudah larut dalam air;sukar larut dalam etanol, dan dalam asam asetat
BM                      : 182,17
Penyimpanan       : Dalam wadah tertutup rapat. (Depkes, 1995 : 756)

f.       Natrium Benzoat
Pemerian              : Granul atau serbuk hablur, putih; tidak berbau atau praktis tidak berbau;stabil diudara.
Kelarutan             : Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol dan lebih mudah larut dalam etanol 90%
BM                      : 144,11
Penyimpanan       : Dalam wadah tertutup baik. (Depkes, 1995 : 584)


g.      Na CMC
Pemerian              :  Serbuk atau granul, putih sampai krem, higroskopis.
Kelarutan             :  Mudah terdispersi dalam air membentuk larutan koloid, tidak larut dalam etanol, eter, dan pelarut organik lain.
Kegunaan               : Suspending agent (Depkes, 1995 : 175)   

h.      BHT
Struktur               :
Rumus Molekul   :    C15H24O
Pemerian              :    Hablur padat, putih, bau khas lemah
Kelarutan             :    Tidak larut dalam air dan dalam propilenglikol mudah larut daam etanol, dalam kloroform dan dalam eter.                       
Kegunaan            :    Antioksidan

6.2    Data Perhitungan Bahan
Oleum Ricini              :  x 100 ml        = 33,33 g x 4 botol   = 133,32 ml
Span 80                       :  x 100 ml     = 4 ml x 4 botol        = 16 ml
Tween 80                 : x 100 ml       = 4 ml x 4 botol        = 16 ml
Na CMC                  :  x 100 ml       = 1 g x 4 botol          = 4 g
Air Untuk Na CMC : 1 x 20                 = 20 ml x 4 botol      = 80 ml
Na Benzoat              :  x 100 ml       = 0,1 g x 4 botol       = 0,4 g
BHT                         :  x100 ml        = 0,02 g x 4 botol     = 0,08 g
Sorbitol                    :  x 100 ml       = 2 ml X 4 botol       = 8 ml
Aquadest                  :  ad 100 ml x 4 botol                            = ad 400 ml
6.3  Data Pengamatan Evaluasi
No
Pengujian
T1
T24
T48
T96
1
Organoleptis





Bentuk
Cairan kental
Cairan kental
Cairan
kental
Cairan kental


Warna
kuning
kuning
kuning
kuning

Rasa
-
-
-
-

Bau
Khas oleum ricini
Khas oleum ricini
Khas oleum ricini
Khas oleum ricini

Kekeruhan
+
+
+
+
2
pH universal
-
-
-
6

pH Meter
6,98
6,94
6,82
-
3
BJ (g/ml)
1,017
0.955
1.104
0.993
4
Viskositas
9000
15.000
15.000
3000
5
Volume Sedimentasi
1
0.82
0.58
0.5
Keterangan : (-) : Tidak dilakukan pengujian

a.         Bobot Jenis
1.        W1              : 24.430 g
W2              : 49.850 g
ρ                 =
ρ                 =  = 1.017 g/ml

2.        W1              : 22.620 g
W2              : 46.518 g
ρ                 =
ρ                 =  = 0,955 g/ml

3.        W1            : 15.778 g
W2            : 26.825 g
ρ              =
ρ               =  = 1.104 g/ml

4.        W1            : 23.731
W2            : 48.578
ρ               =
ρ               =  = 0.993 g/ml

b.         Viskositas
Jam
Spindel
Rpm
Skala
Faktor
Viskositas (cp)
1
61
3
45
200
9000
24
62
3
15
1000
15000
48
62
3
15
1000
15000
96
62
3
3
1000
3000

c.         Volume Sedimentasi (F)
Jam
Vo (mm)
Va (mm)
F
1
62
62
1
24
51
0,82
48
36
0,58
96
31
0,5


6.4  Grafik Evaluasi
a.       Grafik Perubahan pH Emulsi
b.      Grafik Viskositas Emulsi
c.       Grafik Volume Sedimentasi Emulsi
7.             PEMBAHASAN
Emulsi adalah suatu campuran dari dua cairan yang pada dasarnya tidak saling bercampur. Dalam praktikum ini, kedua cairan tak saling campur tersebut terdiri dari minyak dan air, dengan Minyak Jarak (Oleum ricini) sebagai zat aktif. Secara farmakologis, Oleum ricini menurut Farmakope Indonesia edisi ketiga berkhasiat sebagai laksativum dengan dosis lazim 5 ml sampai 20 ml per hari. Komponen lainnya dalam emulsi Oleum ricini ini adalah NaCMC, Tween 80, dan Span 80 sebagai emulgator, Sorbitol sebagai pemanis, Butil Hidroksi Toluen (BHT) sebagai antioksidan, Natrium Benzoat sebagai pengawet, dan Air sebagai fase pendispersi. Pembuatan emulsi Oleum ricini dimaksudkan meningkatkan absorbsi minyak dalam dinding usus halus, mengingat proses pencernaan minyak dan lemak dalam duodenum juga melalui proses emulsifikasi dengan bantuan garam empedu. (lachman,2008)
Prinsip pembuatan emulsi ini adalah dengan mencampurkan fasa minyak dan air dengan bantuan pengadukan. Menurut Lachman,dkk (2008) jika dua cairan yang tidak saling bercampur diaduk secara mekanis, kedua fase ini mula-mula cenderung membentuk tetesan-tetesan. Jika pengadukan dihentikan, tetesan tersebut akan bergabung menjadi satu dengan cepat, dan kedua cairan tersebut akan memisah kembali. Oleh karena itu, untuk menstabilkan keadaan suatu emulsi agar tetap dalam keadaan bercampur, ditambahkan bahan pengemulsi/emulgator yang dapat mencegah koalesensi, yaitu penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan menjadi satu fase tunggal yang memisah. Berdasarkan strukturnya, pengemulsi digambarkan sebagai molekul yang terdiri dari bagian-bagian hidrofilik dan hidrofobik. Nilai yang menunjukkan perbandingan bagian hidrofilik dan hidrofobik ini disebut Hidrophyl Lipophyl Balance (HLB). Semakin besar nilai HLB, semakin banyak bagian hidrofilik sehingga pengemulsi lebih mudah larut dalam air. Berdasarkan nilai HLBnya, Tween 80 dengan nilai HLB 15 berfungsi sebagai emulgator fasa air, sedangkan Span 80 dengan nilai HLB 4,3 berfungsi sebagai emulgator fasa minyak. NaCMC dalam emulsi menurut Fardiaz, dkk (1987) tidak berfungsi sebagai pengemulsi tetapi lebih sebagai senyawa yang memberikan kestabilan (stabilisator).
Pembuatan emulsi ini dimulai dengan pembuatan musilago NaCMC dalam air panas karena NaCMC mudah larut dalam air panas. Selain itu, pada pemanasan dapat terjadi pengurangan viskositas yang bersifat reversible. NaCMC merupakan emulgator hidrokoloid yang akan terdispersi dalam air, kemudian bagian hidrofil NaCMC akan menyerap air dan mengembang. Dalam Handbook of Pharmaceutical Excipients (HOPE) kadar NaCMC sebagai zat pengemulsi adalah 0,25% - 1%. Maka, kadar NaCMC yang digunakan dalam pembuatan emulsi ini telah memenuhi persyaratan, yaitu sebesar 1%. Penambahan NaCMC dalam bentuk musilago ini akan meningkatkan viskositas emulsi dan menghambat terjadinya koalesensi butiran minyak dan air sehingga dapat menstabilkan keadaan emulsi.
Selanjutnya dilakukan pencampuran emulgator fase minyak, yaitu Span 80 dengan Oleum ricini dengan cara diaduk secara mekanis. Sebagaimana proses sebelumnya, pencampuran ini juga dilakukan dalam keadaan panas, yaitu pada suhu sekitar 60o-70oC. Keadaan ini dimaksudkan untuk mengurangi viskositas Span 80 dan Oleum ricini sehingga mempermudah proses pengadukan dan terjadinya emulsifikasi. Kemudian dilakukan pencampuran emulgator fasa air, yaitu Tween 80 dengan sedikit air dalam kondisi yang sama.
Zat-zat dalam bentuk padatan, yaitu Na-benzoat, dan BHT dilarutkan dalam pelarut yang sesuai yang digunakan sebagai bahan dalam pembuatan emulsi ini. Dalam hal ini, Na-benzoat yang berupa garam dilarutkan dalam air, dan BHT dilarutkan dalam Sorbitol.
Zat-zat yang telah disiapkan tersebut kemudian dicampurkan menjadi satu membentuk emulsi dengan metode Anglosaxon/gom basah, yaitu dengan cara memasukkan fasa air dan fasa minyak ke dalam musilago NaCMC secara bergantian sedikit demi sedikit sambil terus diaduk. Emulgator-emulgator yang digunakan akan menurunkan tegangan antarmuka minyak dan air, dan membentuk film antarmuka yang menjadi halangan bagi kedua zat untuk berkoalesensi. BHT yang bersifat termolabil dicampurkan pada tahap akhir setelah suhu campuran bahan lainnya menurun, sehingga kerusakan BHT karena panas dapat dihindari. Na-benzoat dan BHT berfungsi sebagai bahan pengawet dimana Na-benzoat bekerja dengan mencegah pertumbuhan mikroba dan BHT mencegah terjadinya oksidasi yang dapat merusak emulsi. Menurut HOPE, konsentrasi Na-benzoat sebagai pengawet dalam sediaan oral adalah 0,02-0,5%, sedangkan BHT sebagai antioksidan adalah 0,02%. Dengan demikian konsentrasi Na-benzoat sebesar 0,1% dan BHT 0,02% yang digunakan dalam pembuatan emulsi ini telah memenuhi persyaratan. Emulsi Oleum ricini yang dihasilkan termasuk emulsi tipe O/W atau M/A karena dalam emulsi ini fasa minyak terdispersi dalam fasa air yang jumlahnya lebih dominan.
Emulsi yang telah terbentuk kemudian dievaluasi selama 96 jam. Evaluasi yang dilakukan meliputi organoleptis, bobot jenis, pH, viskositas, dan volume sedimentasi. Secara organoleptis, emulsi Oleum ricini yang dihasilkan berwarna putih kekuningan dengan keadaan bercampur sempurna. Akan tetapi, pada penyimpanan sejak 24 jam pertama, telah terjadi flokulasi fasa minyak dan fasa air. Tetapi keadaan tersebut masih dapat diperbaiki dengan pengocokan. Hal ini dapat terjadi karena proses pengadukan yang kurang lama sehingga emulgator belum membentuk film pada tiap tetesan dengan sempurna. Selain itu, dapat pula disebabkan oleh tidak mencukupinya jumlah emulgator yang digunakan. Menurut kelompok keilmuan teknologi farmasi STFI dalam modul praktikum farmasi fisika II (2015), nilai HLB butuh untuk emulsi tipe M/A Oleum ricini adalah 12, sedangkan dalam pembuatan emulsi ini, nilai HLB campuran dari kedua emulgator adalah 9,65. Nilai ini mempengaruhi jumlah emulgator yang digunakan. Dalam hal ini, emulgator yang digunakan tidak mencukupi kebutuhan untuk dapat menghasilkan emulsi yang stabil. Karena terjadinya pemisahan tersebut maka dapat diukur volume sedimentasi sediaan, yaitu sebesar 0,5 pada waktu 96 jam. Emulsi yang bagus sebaiknya tidak memiliki volume sedimentasi dalam waktu penyimpanan yang masih terhitung singkat. Secara keseluruhan, emulsi yang dihasilkan cukup baik dengan pH yang cukup stabil, yaitu dalam rentang 6-7, dan rata-rata bobot jenis yang mendekati bobot jenis air, yaitu 1,027 g/ml. Alasan kenapa memakai zat aktif oleum ricini, karena oleum ricini membuat sediaan emulsi tidak tersatukan air. Sedangkan untuk zat tambahan nya digunakan emulgator berupa Na.CMC untuk memperkecil tegangan permukaan dan sebagai pembatas antara air dan minyak. Kemudian untuk menghindari terjadinya oksidasi ditambahkan BHT (butyl hidroksi asetat) sebagai antioksidan. Na. benzoate digunakan sebagai pengawet untuk mencegah terjadinya pertumbuhan bakteri dan jamur. Dan untuk memperbaiki rasa ditambahkan sorbitol sebagai pemanis.
8.             KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa pada saat evaluasi sediaan selama 3 hari terdapat sedimentasi, hal ini tidak memenuhi persyaratan untuk sediaan emulsi yang baik karena adanya sedimentasi pada saat di diamkan

























9.             LAMPIRAN
a.        Kemasan Primer






b.        Kemasan Sekunder



c.         Brosur

                         

KOMPOSISI:
Tiap 15 mL mengandung.........................Oleum Ricini 5ml.

CARA KERJA OBAT:
Oleum ricini mengandung trigliserida dari asam risinoleat, suatu asam lemak tak jenuh. Didalam usus halus sebagian zat ini diuraikan oleh enzim lipase dan menghasilkan asam risinoleat yang memiliki efek stimulasi terhadap usus halus. Setelah 2-8 jam timbul defekasi yang cair.

INDIKASI:
Oleum ricini diindikasikan sebagai pencahar yaitu dapat mengatasi susah buang air besar.
KONTRAINDIKASI:
Oleum ricini tidak boleh digunakan pada wanita hamil.

ATURAN PAKAI:
Dewasa : 2-4 sendok makan sehari
Anak      : 1-3 sendok makan sehari
Dianjurkan untuk diberikan pada pagi hari waktu perut kosong. Dosis lebih besar tidak menambah efek pencahar. Efek pencahar terlihat setelah 3 jam.

EFEK SAMPING:
Kolik, mual, muntah, denyut nadi tidak teratur, kram otot, dan lelah.
KEMASAN:
Botol isi 100ml

PENYIMPANAN:
Disimpan di tempat sejuk (15 0C-25 0C).


                                                     No. Reg     : DBL 1600400210A1
                                                No. Batch : A1610001
                                                Mfg Date  : Oktober 2016
                                                Exp. Date  : Oktober 2019

Diproduksi Oleh:
PT. TRIFARMA
Bandung – Indonesia

Lamoni
 

LEMBAR KONTRIBUSI
Tujuan, Prinsip, Dasar Teori,daftar pustaka     : Dini Ayu Oktaviani (A 141 089)
Alat&Bahan, Prosedur                                     : Mita Fajriaturrahmah (A 141 084)
Data Percobaan dan Aspek Farmakologi         : Hani Nurhanifah (A 141 073)
Pembahasan, Kesimpulan                                 : Fifi Nur’afiyah (A 141 075)
                                                                            Yulia anggraini (A 141 055)
Kemasan                                                           : Mita Fajriaturrahmah (A 141 084)
Editor                                                               : Yulia anggraini (A 141 055)