Oktober
2015,
Ia
adalah laki-laki yang tidak ingin kehilangan perasaanku. Ia memiliki keinginan
yang banyak, mimpi yang berjuta-juta, dan rasa ingin tahu yang tinggi. Ia keras
kepala, menyebalkan, atau bahkan ia seringkali egois. Ia memang tidak selalu ingin
menang, terlebih atasku. Ia laki-laki sederhana, begitu taat dengan agama,
bersahaja, dan memiliki wibawa yang luar biasa.
Ia
adalah teduhku, ia adala semangatku, ia adalah doaku, ia adalah semogaku, ia
adalah harapanku, ia adalah senyumku, ia adalah tawaku, ia adalah tangisku, ia
adalah bahagiaku, ia adalah duniaku, ia adalah cintaku, ia adalah sayangku, dan
ia adalah laki-laki ku.
Aku
ingin membahagiakannya, aku ingin menghiburnya, aku ingin menjaganya, aku ingin
mendampinginya. Karena bagiku, ia adalah selamanya aku hidup. Ia bukan hanya
sekedar laki-laki yang layak untuk dikagumi dengan jujur. Tetapi juga seorang
laki-laki yang bisa dengan apa adanya mengagumiku dan mencintai dengan apa
adanya aku.
Aku
akan mencintainya dengan tenang. Aku akan menggembirakan hatinya dengan senang.
Aku akan merindukannya tanpa membuat keributan aku akan memperhatikannya dengan
kasih sayang dan kehati-hatian.
Ia,
ia yang pandai memahami aku, ia yang pandai membuat ku senyum tersipu malu, ia
yang pandai mengusir lara, lalu di rubahnya seketika menjadi canda tawa.
Tidak,
tidak jika aku harus kehilangannya. Laki-laki kebanggaanku di depan tuhan.
Menjaganya adalah caraku berterimakasih atas anugerah yang telah tuhan
titipkan.
Ngomong-ngomong,
kamu tahu siapa ia yang aku maksud? Coba kamu bercermin. Setelah itu, kamu
beoleh tersenyum. Ia, adalah kamu cermin terbaik ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar